BANNER

banner kecil

Jumat, 23 Mei 2014

Men-dawam-kan Syahadat untuk Pondasi Ideologi



Kang aran sugih bungah susah eling Allah # serta manut peritahe Rasulullah
Sapa wonge gonjang ganjing syahadate # Pikir keder uripe banget repote

Kalimat syahadat merupakan sumber ideologi Islam yang menjadi pondasi setiap amal shalih. Dalam setiap amal shalih pasti akan beriringan dengan keimanan. Semakin baik kualitas amal shalih seseorang maka semakin kuat kadar keimanan seseorang. Sebaliknya, semakin rusak amal shalih seseorang maka semakin lemah pula keimanan seseorang.

Ideologi dibangun bukan hanya dengan logika (akal) saja. Namun ideologi dibangun dan disusun dengan hati. Logika mempunyai batasan yang mencegah sisi manusiawi untuk mencapai tingkatan yang lebih tinggi untuk ber-tawajjuh (menghadap) Tuhannya. Pasang dan surutnya kadar keimanan seseorang pula menggunakan takaran hati. Maka dalam penghujung tasyahud akhir Rasulullah mengajarkan untuk membaca doa supaya menetapkan hati kita pada agama Allah, sebagaimana dalam hadits

Berkata Abu Ya’la: bercerita Syabab, bercerita kepada kami Muhammad bin Humran, bercerita kepada kami Shafwan, bercerita kepada kami Ashim bin Kulaib, dari ayahnya, dari kakeknya berkata:
“Aku masuk masjid dan Rasulullah SAW. sedang shalat. Beliau meletakkan tangan kanannya pada pupu kanannya dan berisyarat dengan jari telunjuknya seraya berdoa:
يا مقلب القلوب، ثبت قلبي على دينك
‘wahai Pembolak-balik hati, tetapkan hatiku pada agama-Mu”
(Al-Mathaib al-Aliyyah bi Zawaid al-Masanid as-Tsamaniyyah, karya Ibnu Hajar al-Atsqalani, juz 1 hlm. 181)

Dalam kesempatan lain Rasulullah pernah ditanya oleh Aisyah karena banyanya Rasul membaca doa tersebut. Aisyah berkata: “Wahai Rasulullah kenapa engkau memperbanyak doa tersebut, apakah engkau takut?” Rasul menjawab: Tidaklah demikian keyakinannku ya Aisyah! Hati hamba-hamba Allah adalah bagaikan di kedua jari dari jari-jari Allah yang maha al-Jabbar. Ketika Ia menghendaki membalikkan hati hamba-Nya maka berbaliklah hati itu”
(at-Tadzkirah, Imam al-Qurthubi, juz 1 hlm. 42)

Seseorang yang telah dianugerahi Allah memantapkan keimanannya di dalam hati maka ia bagaikan pohon yang kuat akarnya dan batangnya menjulang tinggi ke angkasa. Buah keimanannya akan mudah untuk dipetik, serta daya tahan pohon tidak akan mudah mati. Sebalikanya seseorang yang rusak keimanannya, maka bagaikan pohon yang akarnya membusuk dan mengering. Selanjutnya pohon itu akan mudah mati dan jatuh ke tanah.

Representative dari kuatnya keimanan hati adalah konsistensi dalam melafalkan kalimat thayyibah yang membasahi bibir sebagai dzikir atau wirid setiap saat. Sedangkan cerminan rusaknya hari ialah keringnya bibir dari kalimat thayyibah yang efeknya akan mengeringkan dan mengeraskan hati. Allah berfirman:
وَأُدْخِلَ الَّذِينَ آمَنُوا وَعَمِلُوا الصَّالِحَاتِ جَنَّاتٍ تَجْرِي مِنْ تَحْتِهَا الْأَنْهَارُ خَالِدِينَ فِيهَا بِإِذْنِ رَبِّهِمْ تَحِيَّتُهُمْ فِيهَا سَلَامٌ (23) أَلَمْ تَرَ كَيْفَ ضَرَبَ اللَّهُ مَثَلًا كَلِمَةً طَيِّبَةً كَشَجَرَةٍ طَيِّبَةٍ أَصْلُهَا ثَابِتٌ وَفَرْعُهَا فِي السَّمَاءِ (24) تُؤْتِي أُكُلَهَا كُلَّ حِينٍ بِإِذْنِ رَبِّهَا وَيَضْرِبُ اللَّهُ الْأَمْثَالَ لِلنَّاسِ لَعَلَّهُمْ يَتَذَكَّرُونَ (25) وَمَثَلُ كَلِمَةٍ خَبِيثَةٍ كَشَجَرَةٍ خَبِيثَةٍ اجْتُثَّتْ مِنْ فَوْقِ الْأَرْضِ مَا لَهَا مِنْ قَرَارٍ (26) يُثَبِّتُ اللَّهُ الَّذِينَ آمَنُوا بِالْقَوْلِ الثَّابِتِ فِي الْحَيَاةِ الدُّنْيَا وَفِي الْآخِرَةِ وَيُضِلُّ اللَّهُ الظَّالِمِينَ وَيَفْعَلُ اللَّهُ مَا يَشَاءُ (27)
“Dan dimasukkanlah orang-orang yang beriman dan beramal saleh ke dalam syurga yang mengalir di bawahnya sungai-sungai, mereka kekal di dalamnya dengan seizin Tuhan mereka. Ucapan penghormatan mereka dalam syurga itu ialah "salaam". Tidakkah kamu perhatikan bagaimana Allah telah membuat perumpamaan kalimat yang baik seperti pohon yang baik, akarnya teguh dan cabangnya (menjulang) ke langit. Pohon itu memberikan buahnya pada Setiap musim dengan seizin Tuhannya. Allah membuat perumpamaan-perumpamaan itu untuk manusia supaya mereka selalu ingat. Dan perumpamaan kalimat yang buruk seperti pohon yang buruk, yang telah dicabut dengan akar-akarnya dari permukaan bumi; tidak dapat tetap (tegak) sedikitpun. Allah meneguhkan (iman) orang-orang yang beriman dengan Ucapan yang teguh itu dalam kehidupan di dunia dan di akhirat; dan Allah menyesatkan orang-orang yang zalim dan memperbuat apa yang Dia kehendaki.” (QS. Ibrahim: 23-27)

Syaikh Nawawi al-Jawi dalam Tafsirnya menjelaskan bahwa maksud dari al-Qaul as-Tsabit adalah Syahadat tiada tuhan selain Allah. Beliau juga mengutip pendapat Ibnu Abbas bahwa aktualisasi dalam usaha mengneguhkan hati pada kalimat syahadat adalah dengan men-dawam-kannya. Ibnu Abbas berkata: “Siapa yang melanggengkan membaca syahadat di kehidupan dunia maka Allah akan meneguhkannya di kubur dan Allah mengajarkannya.”
(Mirah al-Labid, Syaikh an-Nawawi al-Jawi, hlm. 436)

Minggu, 12 Mei 2013

Berguru Lebih Dari Satu

Beberapa teman Jama'ah ada yang bertanya kepada saya:
Bolehkah aurad (wirid-wirid) dan dzikir tuntunan Abah Umar dibarengi atau diiringi dengan aurad dan dzikir dari guru tarekat yang lain? Lalu apa hukumnya bertarekat lebih dari dua guru?

Kami menjawab:
Sebaiknya laksanakan tuntunan dari satu guru, karena ulama tarekat sepakat bahwa yang utama adalah hanya melaksanakan aurad dan dzirikir serta tuntunan dari satu guru saja. Lihat di kitab Radd Akadzib halaman 48

وقد نص العلماء على ان الافضل ان يشتغل المرء بطريق واحد كما يشتغل طالب العلم بشيخ واحد (رد اكاﺫب - ٤۸)

"Ulama menash (memastikan) bahwa yang utama adalah menyibukkan diri dengan satu tarekat saja, sebagaimana orang yang menuntut ilmu kepada satu guru saja."

Bahkan dalam kitab al-Anwar al-Qudsiyyah menisbatkan orang yang mempunyai guru lebih dari satu telah menduakan ajaran. Sedangkan orang yang menduakan ajaran tersebut dianggap sebagai godaan dari syaitan untuk menggagalkan bertarekat.

من لم يكن له استاﺫ واحد فهو مشرك فى الطريق والمشرك شيخه الشيطان (ﺍﻻﻧﻮﺍﺭ ﺍﻟﻘﺪﺳﻴﺔ - ٤٣)

"Siapa yang gurunya tidak tunggal maka ia menserikatkan tarekat, dan orang yang menserikatkan tarekat itu syaikhnya adalah syaitan"


Sent from my BlackBerry® via Smartfren EVDO Network

Selasa, 12 Maret 2013

Percaya Guru Mursyid, Kunci Bertarekat

Guru nuntun kesugihan dunya akhirat
Yen gelema pada buka neng syahadat

Seorang salik (pelaku tarekat) adalah ibarat kertas putih yang belum terlukis, atau tepung terigu yang belum menjadi makanan. Sedangkan Guru Mursyid ibarat seorang seniman yang akan melukis di kertas putih atau seorang koki yang akan membuat makanan dari bahan dasar tepung.

Kepasrahan seorang salik menentukan keberhasilah dalam menjalankan tuntunan tarekatnya. Semakil salik tuntuk kepada gurunya maka semakin cepat dia wushul mendapatkan hakekat kehidupan. Ibarat orang buta yang dituntun namun ragu dengan orang yang menuntunnya, maka jalan pun semakin lama dan berat.

Dengan demikian salik harus punya rasa percaya kepada gurunya. Sejenak saja salik meragukan gurunya maka nasehat yang diajarkan oleh gurunya tidak akan bermanfaat.

ان المعلم والطبيب كلهما # لم ينصحان ادا هما لم يكرما

"Sesungguhnya Guru dan Dokter, keduanya tidak akan memberikan nasehat (menyembuhkan penyakit), apabila keduanya tidak dimuliakan (tidak ditercaya, tidak dihargai) oleh murid atau pasiennya"

Alkisah diceritakan, suatu ketika Imam Ghazali shalat berjamaah dengan adiknya Syaikh Muhammad. Namun, entah mengapa tiba-tiba Syaikh Muhammad mufarraqah (memisahkan diri dari jamaah) dengan Imam Ghazali. Setelah selesai shalat Imam Ghazali memohon kepada ibunya untuk bertanya kepada adiknya kenapa dia mufarraqah, dan adakah yang tidak sah di dalam shalatnya.

Kemudian ibunda Imam Ghazali bertanya kepada Syaikh Muhammad: "Muhammad anakku, kenapa engkau tadi dalam shalat mufarraqah dengan kakakmu? Adakah yang tidak sah pada Ahmad (Imam Ghazali)?"
Syaikh Muhammad menjawab: "Aku tadi melihat kangmas Ahmad dalam shalat seluruh badannya penuh dengan darah, sehingga tidak mungkin aku meneruskan makmun dengan beliau"

Sang ibunda pun menceritakan hal tersebut kepada Imam Ghazali. "Astaghfirullah, aku baru ingat, sebelum shalat aku memikirkan tentang darah haid. Karena bab tentang darah haid ini merupakan hal yang rumit sampai-sampai ketika aku shalat menjadi imam tadi aku teringat terus akan darah haid"

Imam Ghazali pun menyadari bahwa pasti gurunya Syaikh Muhammad adalah orang alim dan hebat. Bertanyalah Imam Ghazali kepada adiknya perihal gurunya, dan dia berniat akan berguru dengan gurunya tersebut.

Namun, adiknya tidak mau mengatakan siapa gurunya lantaran malu akan keberadaan gurunya. Karena terus didesak, adiknya pun mau mengatakannya. Ternyata guru adiknya adalah orang biasa yang bekerjaan sehari-harinya sebagai tukan sol sandal di pasar.

Hal tersebut tidak mengurungkan niat Imam Ghazali belajar kepada beliau. Setelah beliau menemukannya beliau meminta guru tersebut untuk mengangkat imam Ghazali sebagai muridnya. Namun, permintaan tersebut ditolak oleh guru lantara imam Ghazali adalah imam besar dan mulia. Sedangkan beliau hanyanya tukang sol sepatu.

Walaupun sudah ditolah imam Ghazali tetap keukeuh ingin menjadi muridnya, sehingga imam Ghazali menunggu selama tiga hari tiga malam di lapak guru tersebut. Karena, keyakinan imam Ghazali kepada guru lah yang membuat beliau mau menerimanya menjadi murid.

Maring Guru kang percaya dulur pomah
Zaman akhir sapa kang momong agama
Ingkang momong bangsa turunane nabi
Turun olih perintah sing Allahu Rabbi
Sent from my BlackBerry® via Smartfren EVDO Network

Sabtu, 09 Februari 2013

Kabar dari Jama'ah Asy-Syahadatain Banteng Mati

DEMAK, sejak sore hari daerah Demak dan sekitarnya diguyur hujan. Derasnya hujan ditambah angin kecang yang seakan merobek ramenya hujan membuat suasana semakin dingin hingga menusuk tulang. Satu demi satu rombongan yang merupakan Jama'ah Asy-Syahadatain wilayah Jawa Tengah mulai berdatangan. Mereka datang perlunya mengikuti acara tahunan yang diadakan oleh Jama'ah Asy-Syahadatain Banteng Mati, kecamatan Mijen.
Walaupun desa Banteng Mati merupakan desa terpencil dan jauh dari keramaian, namun seakan hari ini Sabtu, 9 Februari 2013 mereka mempunyai hajat besar. Acara yang diadakan sejak 10 tahun yang lalu ini bertajuk Peringatan Maulid Nabi Muhammad SAW. Penduduk yang dihuni ratusan kepala keluarga ini 70 % adalah Jama'ah Asy-Syahadatain.
Ditengah suasana yang dingin karena hujan dan angin kencang, di masjid Jama'ah Asy-Syahadatain Banteng Mati sudah diisi penuh oleh jamaah yang datang dari penjuru daerah se Jawa Tengah. Masjid dengan kapasitas limaratusan jamaah ini merupakan masjid yang termegah di wilayah kecamatan Mijen.
Acara diawali dengan shalat Maghrib berjamaah yang diimami oleh al-Habib Drs. H. Abdurrahman, MA. Ph.D. Kemudian acara disambung dengan pembacaan Aurad Maghrib yang dipimpin oleh K. Ahmad Yasin bin K. Zamakhsyari yang merupakan tokoh Jama'ah Asy-Syahadatain Banteng Mati. Waktu Maghrib diakhiri dengan bacaan Maulid Nabi al-Barzanji atau yang biasa disebut Marhabanan.
Acara kemudian dilanjutkan dengan. Shalat Isya berjamaah yang diimami oleh al-Habib Muhammad Aqil bin Yahya yang merupakan Ketua Jama'ah Asy-Syahadatain wilayah Jawa Barat. Kemudian disambung dengan Shalat Witir berjamaah dengan imam al-Habib Qosim bin Yahya Panguragan Jawa Barat. Sebagai penutup diakhiri dengan Tawasul yang diimami oleh al-Habib Abdurrahman bin Umar bin Yahya.
Dipenghujung kegiatan, adalah acara sambutan oleh Sesepuh dan Dewan Pembina Jama'ah Asy-Syahadatain Jawa Tengah Prof. Dr. Mustfid, M.Eng serta Tausiyah dari al-Habib Muhammad Aqil bin Yahya.
Sent from my BlackBerry® via Smartfren EVDO Network

Sabtu, 12 Januari 2013

Taukah Anda Asror Khatam an-Nubuwwah?

Khatam an-Nubuwwah atau stempel kenabian yang dalam istilah lain disebut sebagai lambang "tawajjuh" merupakan cap kenabian sebagai salah satu legalitas tanda kenabian Rasulullah Muhammad saw.

Khatam an-Nubuwwah ini terdapat pada antara pundak Rasulullah. Munculnya stempel kenabian ini dikatakan sejak Rasulullah dilahirkan. Namun pendapat yang lain mengatakan munculnya setelah beberapa saat dilahirkan. Begitu muncul tanda kenabian tersebut bersamaan dengan keluarnya cahaya yang menjulang tinggi ke atas langit.

Asror dari Khatam an-Nubuwwah tersebut bagi kita di antaranya adalah diriwayatkan oleh at-Tirmidzi ra. beliau berkata: "Siapa yang berwudlu kemudian melihatnya (khatam an-nubuwwah) di waktu subuh, maka Allah menjaganya sampai sore hari. Siapa yang melihatnya di waktu Maghrib maka Allah menjaganya sampai waktu subuh. Siapa yang melihatnya pada permulaan bulan, maka Allah menjaganya sampai akhir bulan dari bala' dan mara bahaya. Siapa yang melihatnya pada waktu bepergian, maka kepergiannya akan menjadi berkah. Dan siapa yang meninggal pada tahun itu juga, maka Allah menutupnya dengan keimanan. Yang terpenting yang saya kehendaki dari Allah bahwa orang yang melihatnya dengan pandangan cinta dan iman sepanjang umurnya sekali, maka Allah menjaganya dari semua yang dibenci sampai bertemu dengan Allah"

Jamaah Asy-Syahadatain menggunakan lambang tersebut filosofinya adalah guru kita Abah Umar bin Ismail bin Yahya mengharapkan muridnya mendalami makna yang terkandung di dalamnya sehingga akan timbul cinta dan keimanan. Pada akhirnya setelah timbul cinta dan keimanan bahwa Allah adalah dzat yang esa dan yang hanya berhak disembah serta tidak mempunyai sekutu dan nabi Muhammad adalah hamba Allah dan utusanNya maka kemudian kita dijadikan seorang hamba yang dijaukan dari hal yang kita benci maupun Allah benci sehingga mudah untuk bertemu Allah.

Sumber: Madarij as-Su'ud: 50-51
Wallahu A'lam bis Shawab, 1 Rabiul Awwal 1434 H
Sent from my BlackBerry® via Smartfren EVDO Network

Jumat, 28 Desember 2012

Tanda Akhir Zaman

Umat zaman akhir kabeh bae pada tuna # yang mong tuna gage gandul neng syaikhuna

Semakin tinggi ilmu kita maka semakin tinggi pula tanggung jawab kita untuk mengamalkannya. Orang alim yang tidak mengamalkan ilmunya maka dia dianggap sebagai orang yang telah mengkhiyanati ilmunya. Bukan kemanfaatan yang dia dapatkan tapi justru laknat ilmu yang dia terima. Ilmu juga tidak untuk dipamerkan sehingga ilmu itu menjadi berdebu dan usang. Tapi ilmu harus diaktualisasikan sehingga ibarat pisau semakin diasah akan semakin tajam.

Disaat orang alim sudah tidak lagi menggunakan ilmunya maka datanglah masa yang diramalkan sebagai akhir zaman. Akhir zaman tersebut mempunyai salah satunya adalah hilangnya perkara yang haq sehingga orang alim pun ibadahnya tidak haq.

Tanda-tanda datangnya akhir zaman yang lain adalah hilangnya keberkahan orang yang mencari nafkah. Rasulullah menceritakan bahwa keberkahan tersebut hilang karena mereka semakin menjauh dari para intelektual muslim (ulama') dan pakar hukum islam (fuqaha'). Sabda Rasulullah:
"Akan datang masanya orang-orang menjauh dari para ulama dan fuqaha, sehingga Allah akan mencoba mereka dengan 3 (tiga) hal: Allah akan menghilangkan keberkahan dari apa yang mereka kerjakan, Allah akan mendatangkan pemimpin dzolim, dan Mereka keluar dari dunia tanpa membawa iman"

Ciri-ciri orang yang kehilangan keberkahan adalah cukupnya harta, namun hatinya masih merasa kekurangan.

Tanda-tanda berikutnya adalah sudah tidak ada lagi kasih sayang. Banyak terjadi pembunuhan, perperangan, yang terhangat ada tawuran baik antar pelajar, antar desa bahkan antar pemimpin kelompok. Ada juga yang populer dan menjadi tren seperti pembunuhan bayi yang tidak berdosa.

Tanda-tanda yang selanjutnya adalah banyak orang yang sudah lupa akan Tuhannya. Walaupun mereka menghadap Allah ketika shalat, namun hatinya berpaling dan lalai akan Allah. Ini juga yang dimaksud al-Quran sebagai orang yang mendustakan agama. Firman Allah:
"Tahukah kami (orang) yang mendustakan agama? Itulah orang yang menghardik anak yatim, dan tidak menganjurkan memberik makan orang miskin. Maka celakalah bagi orang-orang yang shalat, yaitu orang-orang yang lalai dari shalatnya" (QS. Al-Ma'un: 1-5)
Iki zaman sampun ilang perkara kang haq # bagen alim ibadahe ora haq
Iki zaman sampun ilang kaberkahan # bagen sugih atine ngerasa kemlaratan
Iki zaman ora nana ning ganjaran # bagen ahli ibadah ibadahe lali Pengeran
(Nadzom catatan KH. Abdur Rosyid Wanantara)

Sent from my BlackBerry® via Smartfren EVDO Network

Kamis, 27 Desember 2012

Manfaat Bermajlis Bersama Intelektual Muslim

Intelektual muslim adalah orang alim yang mengetahui seluruh ilmu yang berkenaan dengan syariah dan akidah. Dua ilmu ini adalah representatif dari ilmu agama, yaitu ilmu yang mendefinisikan dan mengatur segala hal tentang agama. Ilmu syariah adalah ilmu yang mempelajari tentang diskripsi hukum islam. Baik dalam hal ubudiyah (ibadah), dan mu'amalah (sosial).

Sedangkan ilmu akidah adalah ilmu yang mempelajari tentang diskripsi ideologi atau keyakinan. Ideologi tersebut mencakup keimanan kepada Allah, Malaikat, Kitab-Nya, Utusan-Nya, Taqdir dan Ketetapan-Nya, serta Hari Kiamat. Cakupan 6 hal ini kemudian disebut sebagai rukun Iman.

Orang yang menguasai dalam 2 bidang ilmu tersebut adalah yang dikatakan sebagai orang alim. Bermajlis bersama orang alim merupakan upaya yang tepat agar kita selamat dari kesesatan. Mendengarkan petuahnya merupakan penyejuk hati. Berinteraksi dengannya merupakan sarana pembelajaran bagi yang belum tau. Serta bermitra dengan orang alim adalah jalan untuk menghindari jatuhnya keharaman.

Hal tersebut yang termaktub dalam catatan KH. Abdur Rasyid sebagai salah satu murid kepercayaan Habib Umar bin Isma'il bin Yahya yang diamanahi untuk mencatat setiap petuah yang keluar dari beliau:

من جلس عند العالم ساعتين # او أكل معه لقمتين
او سمع منه كلمتين # او مشي معه خطوتين
أعطاه اللّه تعالى جنتين # كل جنت مثل الدنيا مرتين

Sapa wonge lungguh rong jam ning wong alim
Atawa mangan rong pulukan sarta wong alim
Atawa ngerungu rong kalimah sing wong alim
Atawa melaku rong tindakan sarta wong alim
Mangka gusti Allah maringi surga loro
Saben siji surga padane dunya loro
(Catatan KH. Abdur Rasyid Wanantara)


Sent from my BlackBerry® via Smartfren EVDO Network

Selasa, 25 Desember 2012

Karamah Para Wali Hadir untuk Memperkuat Dakwah fi Sabilillah

Tahukah anda bahwa karamah para Shahabat datang setelah wafatnya Rasulullah? Jadi jangan anggap bahwa para Shahabat tak berkaramah. Ketika Rasulullah masih berada di tengah-tengah para Shahabat, mereka belum mengeluarkan karamah. Karena di saat itu merupakan wilayah Mu'jizah yang tingkatannya lebih tinggi daripada Karamah.
Diceritakan bahwa di zaman khilafah Sayyidina Umar bin Khatthab suatu ketika di saat beliau berkhatbah di atas mimbar, tiba-tiba beliau dengan nada keras berkata "Wahai Sariah gunung.. gunung..!!!", lalu beliau kembali berkhatbah. Orang-orang tercengang dengan yang beliau katakan. Setelah beberapa waktu berlalu, datanglah para pasukan yang diutus Sayyidina Umar untuk berekspansi. Datanglah salah satu panglima perang bernama Sariyah bin Zanim al-Kilabi, dia bercerita bahwa suatu hari di hari Jum'at disaat shalat kami hampir saja dihancurkan oleh musuh. Namun tiba-tiba terdengar suara Amirul Mu'minin (Sayyidina Umar): "Wahai Sariyah gunung.. gunung..!!!", kemudia Sariyah dan pasukan naik ke gunung dan kami selamat.
Cerita yang lain adalah di saat terjadi kebakaran besar melanda kota Madinah pada masa pemerintahan Sayyidina Umar orang-orang berhamburan keluar rumah. Datanglah seorang Shahabat yang bernama Ali Ijl, beliau berkata kepada api: "Wahai Api diamlah! Sungguh engkau sekarang berada di Kotanya Muhammad" seketika itu api langsung padam tanpa bekas sama sekali.
Dua cerita tersebut merupakan cerminan betapa besar keagungan Allah yang diperuntukkan bagi hamba yang Allah sayangi, sebagai bekal fi sabilillah. Tak terkecuali adalah karamah yang diberikan kepada Guru Kita Syaikhuna al-Mukarram Habib Umar bin Isma'I'll bin Yahya. Cerita karamahnya termaktub dalam syair berikut:
Ya Allah ya Rasulullah ya Habibi Khalifah Rasul
Abdi umat nuhun gandul dateng Syaikhuna lan gusti Rasul
Ya Allah ya Rasulullah ya Syaikh Hadi nuhun hidayat
Dateng abdi picek lan salah nuhun selamet dunya akhirat
Ya Allah ya Rasulullah ya Syaikh Alim mulang syahadat
Weton sangking Syarif Hidayat abdi nuhun ilmu manfaat
Ya Allah ya Rasulullah ya Syaikh Khabir kasih ing Allah
Nuhun waspada dateng sedayane dateng dhahir tuin bathini
Ya Allah ya Rasulullah ya Syaikh Mubin nuhun karamah
Nuhun terang ilmu syariat hakekat tarekat ma'rifat
Ya Allah ya Rasulullah ya Syaikh Wali melas ning umat
Nuhun rahmat serta syafaat awit dunya sampe akhirat
Ya Allah ya Rasulullah ya Syaikh Hamid pinuji ning umat
Nuhun nurut kabeh peraturan tetep mulya tan kesamaran
Ya Allah ya Rasulullah ya Syaikh Qawim kang mboten rubah
Nuhun kiat lan istiqamah awit gesang dumugi pejah
Ya Allah ya Rasulullah ya Syaikh Hafidz ngereksa ning umat
Nuhun sampun ngantos masyaqat awit dunya sampe akhirat
Sent from my BlackBerry® via Smartfren EVDO Network

Jumat, 30 November 2012

GURU MURSYID bagian 3 (habis)


Kemaksuman dan wahyu bagi Guru Mursyid
Kemaksuman adalah kualitas batin akibat pengendalian diri yang memancar dari sumber keyakinan, ketakwaan dan wawasan yang luas. Sifat batin yang sangat kuat ini begitu efektif sehingga mampu menghalangi manusia untuk melakukan semua jenis dosa atau pemberontakan, baik besar maupun kecil, baik tersembunyi maupun terbuka.
Maka dapat kita katakana bahwa factor-faktor yang mengarahkan kepada pengingkaran dan dosa tidak memiliki efek pada orang seperti itu, sehingga maksum disini lebih menekankan bahwa ia memiliki kebebasan untuk memilih dan berbuat, tapi ia dicegah untuk mendekati wilayah dosa oleh kesadaran dari sifat agungnya dan hadirnya Allah secara terus menerus.
Umumnya melakukan dosa adalah akibat dari tidak mengetahui buruknya perbuatan tersebut dan konsekuensinya, atau orang sadar akan buruknya, dan keyakinannya memperingatkan dan menasehati akan bahayanya perbuatan itu, namun ia terus ditopang oleh keinginannya (nafsu/angan) sampai kehilangan semua diri, sehingga jatuh dalam perbuatan dosa. Sehingga diperlukannya perhatian terhadap konsekuensi dari perbuatan seseorang, meningkatkan ketakwaan, dan pemahaman secara sempurna tentang kepatuhan terhadap hukum Allah, maka akan menciptakan kemaksuman tertentu dalam diri manusia, setelah itu tidak lagi dibutuhkan sarana pengendalian dan control diri.
Orang-orang akan tunduk secara total terhadap tuntunan-tuntunan guru mursyid mereka dan sepakat menerima perintahnya ketika mereka menganggap semua perintah itu sebagai perintah dari Allah, tanpa ada rasa ragu sedikitpun dalam persoalan ini. Jika seseorang tidak benar-benar terjaga dari dosa, apakah kata-katanya dapat ditaati dengan penuh dedikasi?
Dampak kemaksuman adalah seperti itu, sehingga ia melindungi manusia dari tipuan dunia ini dan memungkinkan dia untuk tabah menghadapi semua bentuk gangguan.
Kemaksuman ini tidak bisa hanya dibatasi pada periode yang didalamnya sudah benar-benar jadi mursyid, namun dalam hidupnya, termasuk periode sebelum menjabat mursyid, hatinya harus bebas dari semua kegelapan dan kepribadiannya terbebas dari dosa. Disamping kenyataannya perbuatan dosa menyebabkan hilangnya martabat manusia, orang-orang selalu menganggap berlanjutnya dosa dan penyelewengan yang telah mereka ketahui dia lakukan dimasa silam, sekalipun hanya yang kecil-kecil saja. Tuduhan ini pada gilirannya akan merampas kemursyidan seseorang, karena ia tidak lagi dianggap sebagai tauladan ketakwaan dan kesucian. Karena kenangan pahit tentang kehidupan yang sebagiannya dihabiskan dalam dosa tidak akan pernah bisa dihapus.
Sehingga syarat pertama dan utama untuk jabatan mursyid adalah kesucian batin, ketakwaan yang mendalam, dijaga oleh Allah dari melakukan dosa (Maksum/mahfudz), dan memiliki hati yang sangat baik sebelum dan sesudah terpilih untuk menjabat sebagai mursyid, serta ia merupakan keturunan dari Nabi saw.
Karena seungguhnya Allah telah menguraikan ayat kesucian dan karakter khas mereka sebagai berikut;
وَقَرْنَ فِي بُيُوتِكُنَّ وَلَا تَبَرَّجْنَ تَبَرُّجَ الْجَاهِلِيَّةِ الْأُولَى وَأَقِمْنَ الصَّلَاةَ وَآَتِينَ الزَّكَاةَ وَأَطِعْنَ اللَّهَ وَرَسُولَهُ إِنَّمَا يُرِيدُ اللَّهُ لِيُذْهِبَ عَنْكُمُ الرِّجْسَ أَهْلَ الْبَيْتِ وَيُطَهِّرَكُمْ تَطْهِيرًا
 “Dan hendaklah kamu tetap di rumahmu dan janganlah kamu berhias dan bertingkah laku seperti orang-orang Jahiliyah yang dahuludan dirikanlah shalat, tunaikanlah zakat dan taatilah Allah dan Rasul-Nya. Sesungguhnya Allah bermaksud hendak menghilangkan dosa dari kamu, Hai ahlul bait dan membersihkan kamu sebersih-bersihnya.” (Qs. Al Ahzab; 33)
Kebenaran dan kemaksuman mursyid termanifestasi dalam ucapan, perbuatan, dan pemikiran karena pengetahuan mereka sebagai akibat dari wahyu atau ilham.
Wahyu/ilham ini tidak akan berhenti hanya dalam fase kenabian saja, namun tetap berlanjut kedalam fase setelahnya (fase kemursyidan).
وخبر لاوحي بعدى باطل.  ومااشتهر أن جبريل عليه السلام لاينـزل إلى الأرض بعد موت النبي صلى الله عليه وسلم فهو لاأصل له (الفتاوى الحديثية ص 129)
“dan berita tentang tidak ada wahyu setelahku (setelah nabi Muhammad) adalah salah, dan berita yang masyhur bahwa sesungguhnya Jibril tidak turun kebumi setelah wafatnya Nabi saw. adalah tidak ada dasar hukumnya” (Fatawil Hadisiyah).
Dari kutipan kitab tersebut menjelaskan akan adanya wahyu setelah kenabian Muhammad saw. Karena pada dasarnya wahyu adalah ilham atau petunjuk Allah kepada hambanya yang istimewa. Seperti halnya wahyu atau ilham yang disampaikan Allah sebagai berikut;
والوحي بمعناه اللغوى يتناول الإلهام الفطرى للإنسان كالوحي إلى أم موسى (وأوحينا إلى أم موسى أن أرضعيه, القصص 7) التفسير وعلومه ص 5_
“dan Wahyu menurut arti bahasa adalah mendapatkan ilham yang lembut bagi manusia seperti halnya wahyu kepada ibunya Nabi Musa (dan aku wahyukan kepada ummi Musa; susuilah dia (musa)”.   
Sehingga dapat disimpulkan bahwa wahyu/ilham bukan hanya terbatas kepada para nabi saja melainkan kepada orang-orang yang diistimewakan oleh Allah bisa terjadi khususnya kepada Guru Mursyid, karena ia ditugaskan oleh Allah untuk membimbing ummat dengan berdasarkan pada petunjuk Al-quran. Dari keterangan tersebut kita juga dapat memetakan bahwa term wahyu dikhususkan untuk para Nabi, sedangkan term Ilham dikonotasikan untuk para wali Allah.
Penafsiran makna batin dari Al-quran adalah pengetahuan yang berasal dari dunia tak Nampak; dengan kata lain ia bukan pengetahuan yang bisa diperoleh melalui cara-cara konvensional. Penafsiran sesungguhya hanya bisa diperoleh dari karunia Allah swt. Al-quran menyatakan;
هُوَ الَّذِي أَنْزَلَ عَلَيْكَ الْكِتَابَ مِنْهُ آَيَاتٌ مُحْكَمَاتٌ هُنَّ أُمُّ الْكِتَابِ وَأُخَرُ مُتَشَابِهَاتٌ فَأَمَّا الَّذِينَ فِي قُلُوبِهِمْ زَيْغٌ فَيَتَّبِعُونَ مَا تَشَابَهَ مِنْهُ ابْتِغَاءَ الْفِتْنَةِ وَابْتِغَاءَ تَأْوِيلِهِ وَمَا يَعْلَمُ تَأْوِيلَهُ إِلَّا اللَّهُ وَالرَّاسِخُونَ فِي الْعِلْمِ يَقُولُونَ آَمَنَّا بِهِ كُلٌّ مِنْ عِنْدِ رَبِّنَا وَمَا يَذَّكَّرُ إِلَّا أُولُو الْأَلْبَابِ
Dia-lah yang menurunkan Al kitab (Al Quran) kepada kamu. di antara (isi) nya ada ayat-ayat yang muhkamaat, Itulah pokok-pokok isi Al qur'an dan yang lain (ayat-ayat) mutasyaabihaat. Adapun orang-orang yang dalam hatinya condong kepada kesesatan, Maka mereka mengikuti sebahagian ayat-ayat yang mutasyaabihaat daripadanya untuk menimbulkan fitnah untuk mencari-cari ta'wilnya, Padahal tidak ada yang mengetahui ta'wilnya melainkan Allah. dan orang-orang yang mendalam ilmunya berkata: "Kami beriman kepada ayat-ayat yang mutasyaabihaat, semuanya itu dari sisi Tuhan kami." dan tidak dapat mengambil pelajaran (daripadanya) melainkan orang-orang yang berakal. (As. Ali Imran: 7)


Penutup
Allah sajalah yang berhak memilih seseorang sebagai guru umat manusia dan pembimbing ummat, untuk menjelaskan hokum-hukum-Nya, untuk menginterpretasikan masalah-masalah kompleks dalam Al-quran, dan untuk mempertahankan kebenaran dan mengembangkan kepribadian ummat. Allah mempercayakan jabatan ini kepada orang istimewa dan memiliki sifat maksum/mahfudz yang benar-benar unik dalam kualitas spiritualnya, atribut lahir batinnya serta komunikasi dengan dunia yang tersembunyi. Orang seperti ini memahami kebenaran batin dari sesuatu dengan mata batinnya, ia selalu menghadap pada kebenaran dengan cara yang sedemikian rupa, keyakinannya tidak pernah menyeleweng dan perbuatannya tidak pernah menyimpang dari jalan yang benar, karena segala sesuatunya atas kehendak Allah swt. Sehingga guru mursyid adalah orang yang paling mulia dimasanya, yang paling unggul dari sahabat seangkatannya.


LAMPIRAN
عَلَى خُلَفَائِى رَحْمَةُ اللهِ قِيْلَ وَمَنْ خُلَفَائُكَ قَالَ الَّذِيْنَ يُحْيُوْنَ سُنَّتِى وَيُعَلِّمُوْنَهَا عِبَادَ اللهِ
"Semoga rohmat Allah ditetapkan bagi para kholifahku. Beliau ditanya: siapakah para kholifahmu tuan? Beliau menjawab: mereka adalah orang-orang yang menghidupkan sunnahku dan mengajarkannya kepada hamba-hamba Allah."[1]
تَنَقَّلَ نُوْرُ الْمُصْطَفَى سَيِّدِ الْبَشَرِ# إِلَى ظَهْرِ آدَمَ كَانَ أَضْوَا مِنَ الْقَمَرِ
"Nur Rosulullah yang terpilih pimpinan manusia, berpindah kepunggung nabi adam. Nur itu lebih terang dari pada rembulan."[2]
وَاعْلَمْ أَنَّ مُحَمَّدًا ص م. أَعْطَي جَمِيْعَ اْلأَنْبِيَاءِ وَالرُّسُلِ مَقَامَاتِهِمْ فِى عَالَمِ اْلأَرْوَاحِ حَتىَّ بَعَثَ بِجِسْمِهِ عَلَيْهِ السَّلاَم وَاتَّبَعْنَاهُ وَالْتَحَقَ بِهِ مِنَ اْلأَنْبِيَاءِ فِى الْحُكْمِ مَنْ شَاهَدَهُ أَوْ نَزَلَ بَعْدَهُ
"Dan ketahuilah bahwa Muhammad saw. memberikan kepada semua nabi dan rosul kedudukan-kedudukan atau derajat-derajat mereka di alam arwah sampai ia diutus dengan rupa jasadnya (dialam dunia) dan kita mengikutinya. Dan secara hukum dapat dipertemukan dengan beliau diantara para nabi, orang-orang yang menyaksikan beliau, atau turun sesudah beliau."[3]

Mudrik menadzomkan sebagai berikut:
Sapa wonge nemu guru sifat papat
Gandulana poma-poma ingkang kuat
Ingkang dingin sifat ipun mu'ayyidin
Nguwataken ing agama kelawan yakin
Ingkang kapindo sifat ipun zahidin
Ora jejaluk ing menusa sarta jin
Ingkang kaping telu sifat ipun musyfikin
Kang makani ewon-ewon fakir miskin
Kang kaping pat ru'afa lil mu'minin
Kang muruki wong bodo sehingga yakin
Mungguh kula iku abah umar
Ingkang muruki syahadat ora samar



[1] "Raudhatul Muhadditsin", hadis ke 4928
[2] Madarijus Su'ud hal 4
[3] "Khozinatul Asror", hal. 194

Nara Sumber: K. Zaenal Abidin Kanci dan K. Drs. Hasan Makmum
Penulis: Ustadz Abdul Hakim Munjul
Editor: Yusuf Muhajir Ilallah

Selasa, 27 November 2012

GURU MURSYID bagian 2


Guru Mursyid sebagai Wasilah Kepada Allah
يَا أَيُّهَا الَّذِينَ آَمَنُوا اتَّقُوا اللَّهَ وَابْتَغُوا إِلَيْهِ الْوَسِيلَةَ وَجَاهِدُوا فِي سَبِيلِهِ لَعَلَّكُمْ تُفْلِحُونَ
Hai orang-orang yang beriman, bertakwalah kepada Allah dan carilah jalan yang mendekatkan diri kepada-Nya, dan berjihadlah pada jalan-Nya, supaya kamu mendapat keberuntungan. (al-Maidah: 35)
Ayat ini berisi perintah bahwa manusia wajib mencari dan menemukan wasilah Allah. Menurut versi sufi wasilah dalam ayat ini bermakna Nurun ala Nur,  karena ia membawa peranan untuk menghantar, menuntun jiwa/rohani manusia yang telah disucikan agar sampai kehadirat-Nya.
Kalau Rasulullah menggunakan Buraq sebagai wasilah untuk dapat mencapai kehadirat Allah, berarti kitapun harus memakai wasilah. Wasilah Allah itu telah tertanam dalam diri Rasulullah saw., maka untuk mendapatkannya salah satunya adalah dengan menggabungkan rohani suci Rasulullah melalui saluran rohani seorang guru yang mursyid.
وَلَمَّا وَرَدَ فِى الْحَدِيْثِ  كُنْ مَعَ اللهِ وَاِنْ لَمْ تَكُنْ فَكُنْ مَعَ مَنْ كَانَ مَعَ اللهِ فَإِنَّهُ يُوْصِلُكَ إِلَى اللهِ إِنْ كُنْتَ مَعَهُ
"dan berdasarkan riwayat dalam hadits tetaplah kamu bersama Allah dan jika tidak, maka tetaplah bersama orang yang selalu bersama Allah. Sesungguhnya ia akan mengantar kamu kepada Allah, jika kamu terus bersamanya."
Jadi, titik berat daripada ajaran tasawwuf adalah mewajibkan penganutnya untuk memiliki wasilah Allah sebagai kendaraan rohani agar dapat berhubungan dengan segala hal yang berkaitan dengan aspek rohaniyah bukan yang bersifat jasmaniyah.
Diri rohani para Nabi dan Rasul, para Wali Allah, serta Rohani orang-orang mukmin sudah pasti dipenuhi oleh energy ilahi yang mempunyai kekuatan dan getaran yang maha tinggi. Kekuatan itu satu-satunya yang mampu menghadang kekuatan iblis dalam diri, dan menghadang api neraka.
Manusia harus berjuang melalui jalan tarekatullah bila hendak mendapatkan energy ilahi tersebut. disamping itu pula harus memahami hakikat daripada dimensi jasmani dan rohani. Sebab tertibnya rukun dan syarat berkaitan dengan jasmani belum bisa dikatakan cukup untuk mendapatkan energy ilahi tadi. Akan tetapi, masih memerlukan sisi lain yang berhubungan dengan rohani, rahasia ini ada dalam diri guru yang mursyid.

Kriteria Guru Mursyid
Tidak mudah untuk menyandang predikat guru mursyid kalau bukan Allah sendiri yang menunjuknya. Secara khusus para ulama memberikan criteria atau cirri-ciri guru mursid sebagai berikut;
وَشُرُوْطُ الشَّيْخِ الَّذِى يَصْلُحُ أَنْ يَكُوْنَ نَائِبًا لِرَسُوْلِ اللهِ ص م. أَنْ يَكُوْنَ تَابِعًا لِشَيْخٍ بَصِيْرٍ يَتَسَلْسَلُ إِلَى سَيِّدِ الْكَوْنَيْنِ ص م. وَأَنْ يَكُوْنَ عَالِمًا لِأَنَّ الْجَاهِلَ لاَيَصْلُحُ لِلإِرْشَادِ وَأَنْ يَكُوْنَ مُعْرِضًا عَنْ حُبِّ الدُّنْيَا وَحُبُّ الْجَاهِ وَيَكُوْنَ مُحْسِنًا لِرِيَاضَةِ نَفْسِهِ
"Syarat-syarat guru yang patut menjadi pengganti Rasulullah adalah;
-       mengikuti seorang guru yang dapat melihat (dengan hati) yang menyambung (sanadnya) sampai kepada Rasulullah, sang pemimpin dua makhluk (jin dan manusia).
-       Harus Alim (menguasai ilmu dzahir dan bathin), sebab orang yang bodoh tidak bisa menjadi penunjuk kebenaran.
-       Selalu berpaling dengan kecintaan kepada dunia dan kedudukan.
-       Selalu dapat melatih jiwanya."[1]
وَيَخْتَارُهُ لِلصَّحْبَةِ مِنَ اْلأَئِمَّةِ الْمُؤَيِّدِيْنَ مِنَ اللهِ تَعَالَى بِنُوْرِ الْبَصِيْرَةِ الزَّاهِدِيْنَ بِقُلُوْبِهِمْ فِى هَذَا الْعَرَضِ الْحَاضِرِ الْمُشْفِقِيْنَ عَلَى الْمَسَاكِيْنِ الرُّؤَفَاءِ عَلَى ضُعَفَاءِ الْمُؤْمِنِيْنَ فَمَنْ وَجَدَ أَحَدًا عَلَى هَذِهِ الصِّفَةِ فِى هَذَا الزَّمَانِ الْقَلِيْلِ الْخَيْرِ جِدًّا فَلْيَشُدَّ يَدَهُ عَلَيْهِ وَلِيَعْلَمَ أَنَّهُ لاَيَجِدُ لَهُ ثَانِيًا    (أم البراهين ص 69)
"Dan Ulama memilih untuk berguru kepada imam-imam Muayyidin (yang menguatkan) agama Allah dengan nur pengawasannya, yang zuhud (Zahidin) terhadap/dari dunia (harta), yang mengasihi (musyfiqin) orang-orang miskin, yang lembut dan kasih sayang (ru'afa) kepada orang-orang mukmin yang lemah. Maka barang siapa menemukan seseorang yang bersifat seperti sifat ini pada zaman yang sangat sedikit kebaikannya ini, maka berpegang kuatlah dan belajarlah kepadanya, karena sesungguhnya ia itu tiada duanya".[2]
فَمَنْ لَمْ تَتَّصِلُ سِلْسِلَتُهُ إِلَى الْحَضْرَةِ النَّبَوِيَّةِ فَإِنَّهُ مَقْطُوْعُ الْفَيْضِ وَلَمْ يَكُنْ وَارِثًا لِرَسُوْلِ اللهِ ص م. وَلاَ تُؤْخَذُ مِنْهُ الْمُبَايَعَةَ وَاْلإِجَازَةَ
وَلِمَا أَخْرَجَهُ الطَّبْرَانِى عَنْ عَبْدِ الله بن بِسْرِ رَضِيَ الله عَنْهُ أَنَّهُ قَالَ قَالَ رَسُولُ الله ص م. طُوْبَى لِمَنْ رَآنِى وَآمَنَ بِى وَطُوْبَى لِمَنْ رَآى مَنْ رَآنِى وَ لِمَنْ رَآى مَنْ رَآى مَنْ رَآنِى وَآمَنَ بِى وَطُوْبَى لَهُمْ وَحُسْنُ مَآبٍ
وَلِهَذَا جَرَتْ التَّأْثِيْرَاتُ مِنَ الْمَشَايِخِ لِلْمُرِيْدِيْنَ وَيَجْرِى إِلَى آخِرِ الدَّهْرِ لِأَنَّ إِسْنَادَ الْحَالِ كَإِسْنَادِ اْلأَحْكاَمِ
"Maka barangsiapa (guru) yang tidak menyambung silsilahnya sampai kepada Rasulullah, maka sesungguhnya ia terputus dari limpahan (barakah/rahmat) dan ia bukan pewaris Rasulullah saw. dan kita tidak boleh mengambil baiat dan ijazah darinya
dan berdasarkan hadits yang diriwayatkan Imam Thabrani dari Abdullah bin Bisr ra. Bahwa sesungguhnya ia berkata: Rasulullah saw. bersabda: Alangkah bahagianya orang yang melihatku dan beriman kepadaku, betapa bahagianya orang yang melihat orang-orang yang melihatku, dan alangkah bahagianya orang yang melihat orang-orang yang melihat pada orang yang melihatku dan beriman kepadaku, alangkah bahagianya mereka, dan (bagi mereka) tempat kembali yang baik.
Maka dari itu berlaku pengaruh-pengaruh para guru terhadap murid-murid mereka, dan (hal ini) berjalan terus sampai akhir zaman. Sebab, sanad dalam `hal` sama dengan sanad dalam hukum."[3]


[1] Khozinatul Asror hal. 194 (lihat pula dalam kitab Tanwirul Kulub hal. 525)
[2] Sayyid Muhammad As-Sanusi, "Ummul Barahin" hal. 69, Maktabah Karya Toha Putra, Semarang.
[3] Khozinatul Asror hal. 188-189

Nara Sumber: K. Zaenal Abidin Kanci dan K. Drs. Hasan Makmum
Penulis: Ustadz Abdul Hakim Munjul
Editor: Yusuf Muhajir Ilallah