BANNER

banner kecil

Selasa, 01 Mei 2012

Isi Fatwa Majelis Masyayikh Jama'ah Asy-Syahadatain Jawa Tengah tentang Penyimpangan Tuntunan di Tegal


Kami yang bertandatangan dibawah ini Anggota Majelis Masyayikh Jama’ah Asy-Syahadatain Jawa Tengah menyatakan bahwa yang didiskripsikan dibawah ini adalah ajaran yang BUKAN dari tuntunan Jama’ah Asy-Syahadatain (Abah Umar).
1.      Memperbolehkan meninggalkan shalat wajib lima waktu karena dalam keadaan bekerja atau mencari nafkah dengan alasan keduanya adalah ibadah yang cukup dilaksanakan salah satu saja.
2.      Menurunkan hawa nafsu dengan cara onani (mengeluarkan mani dengan tangan) yang dilakukan oleh gurunya kepada muridnya. Kemudian gurunya memerintahkan untuk menahan jangan sampai keluar spermanya. Diyakini hal tersebut dapat menurunkan hawa nafsu.
3.      Diperbolehkan meninggalkan shalat karena tidak membawa pakaian jubah dan sorban putih.
Ajaran tersebut berdasarkan informasi yang telah di dapatkan oleh tim Majelis Masyayikh Jama’ah Asy-Syahadatain Jawa Tengah. Tim telah melakukan observasi untuk klarifikasi data. Hasilnya membuktikan bahwa hal tersebut terjadi pada sebuah golongan yang mengatasnamakan kelompok Jama’ah Asy-Syahadatain yang dipimpin oleh inisial NR. Obyek yang dimaksud terdapat di daerah sekitar PG Pangkah desa Kedungbanteng Kecamatan Kedungbanteng Kabupaten Tegal.

ARGUMENTASI

1.      Jama’ah Asy-Syahadatain meyakini bahwa shalat wajib lima waktu adalah salah rukun Islam yang wajib dilaksanakan sebagaimana firman Allah:
وَجَعَلْنَاهُمْ أَئِمَّةً يَهْدُونَ بِأَمْرِنَا وَأَوْحَيْنَا إِلَيْهِمْ فِعْلَ الْخَيْرَاتِ وَإِقَامَ الصَّلَاةِ وَإِيتَاءَ الزَّكَاةِ وَكَانُوا لَنَا عَابِدِينَ (الانبياء:73)
Artinya:    “Kami telah menjadikan mereka itu sebagai pemimpin-pemimpin yang memberi petunjuk dengan perintah Kami dan telah Kami wahyukan kepada, mereka mengerjakan kebajikan, mendirikan sembahyang, menunaikan zakat, dan hanya kepada kamilah mereka selalu menyembah,”

Firman Allah tentang kewajiban mendahulukan shalat dari pada bekerja mencari nafkah

رِجَالٌ لَا تُلْهِيهِمْ تِجَارَةٌ وَلَا بَيْعٌ عَنْ ذِكْرِ اللَّهِ وَإِقَامِ الصَّلَاةِ وَإِيتَاءِ الزَّكَاةِ يَخَافُونَ يَوْمًا تَتَقَلَّبُ فِيهِ الْقُلُوبُ وَالْأَبْصَارُ (النور:37)
Artinya:    “Laki-laki yang tidak dilalaikan oleh perniagaan dan tidak (pula) oleh jual beli dari mengingati Allah, dan (dari) mendirikan sembahyang, dan (dari) membayarkan zakat. mereka takut kepada suatu hari yang (di hari itu) hati dan penglihatan menjadi goncang.”

يَا أَيُّهَا الَّذِينَ آَمَنُوا إِذَا نُودِيَ لِلصَّلَاةِ مِنْ يَوْمِ الْجُمُعَةِ فَاسْعَوْا إِلَى ذِكْرِ اللَّهِ وَذَرُوا الْبَيْعَ ذَلِكُمْ خَيْرٌ لَكُمْ إِنْ كُنْتُمْ تَعْلَمُونَ ( ) فَإِذَا قُضِيَتِ الصَّلَاةُ فَانْتَشِرُوا فِي الْأَرْضِ وَابْتَغُوا مِنْ فَضْلِ اللَّهِ وَاذْكُرُوا اللَّهَ كَثِيرًا لَعَلَّكُمْ تُفْلِحُونَ ( ) وَإِذَا رَأَوْا تِجَارَةً أَوْ لَهْوًا انْفَضُّوا إِلَيْهَا وَتَرَكُوكَ قَائِمًا قُلْ مَا عِنْدَ اللَّهِ خَيْرٌ مِنَ اللَّهْوِ وَمِنَ التِّجَارَةِ وَاللَّهُ خَيْرُ الرَّازِقِينَ  (الجمعة: 9-11)
Artinya:    “Hai orang-orang beriman, apabila diseru untuk menunaikan shalat Jum'at, Maka bersegeralah kamu kepada mengingat Allah dan tinggalkanlah jual beli. yang demikian itu lebih baik bagimu jika kamu mengetahui. Apabila telah ditunaikan shalat, Maka bertebaranlah kamu di muka bumi; dan carilah karunia Allah dan ingatlah Allah banyak-banyak supaya kamu beruntung. dan apabila mereka melihat perniagaan atau permainan, mereka bubar untuk menuju kepadanya dan mereka tinggalkan kamu sedang berdiri (berkhotbah). Katakanlah: "Apa yang di sisi Allah lebih baik daripada permainan dan perniagaan", dan Allah Sebaik-baik pemberi rezki.”

Sabda Rasulullah saw. tentang rukun Iman:
50- حدثنا مسدد قال حدثنا إسماعيل بن إبراهيم أخبرنا أبو حيان التيمي عن أبي زرعة عن أبي هريرة قال : كان النبي صلى الله عليه و سلم بارزا يوما للناس فأتاه جبريل فقال ما الإيمان ؟ قال ( أن تؤمن بالله وملائكته وبلقائه ورسله وتؤمن بالعبث ) . قال ما الإسلام ؟ قال ( الإسلام أن تعبد الله ولا تشرك به وتقيم الصلاة وتؤدي الزكاة المفروضة وتصوم رمضان ) …
Bercerita kepada kami Musaddad berkata, bercerita kepada kami Isma’il bin Ibrahim, bercerita kepada kami Abu Hayyan at-taymi dari Abi Zur’ah dari Abi Hurairah berkata: Nabi Muhammad saw. suatu ketika pergi bersama para sahabat kemudian datanglah Jibril bertanya: “Apa itu Iman?” Rasul menjawab: “Iman adalah engkau percaya (iman kepada) Allah, Malaikat, ketentuan-Nya, Rasul-Nya, dan Hari Qiyamat”. Jibril bertanya kembali: “Apa itu Islam?”. Nabi menjawab: “Islam adalah engkau menyembah Allah dan tidak menyekutukan-Nya, mendirikan shalat, membayar zakat fardu dan puasa bulan Ramadhan …”
(Muhammad bin Isma’il al-Bukhari, al-Jami’ as-Shahih al-Bukhari, Dar Ibn katsir, Beirut, 1987, juz 1 hlm. 27)

Dalam hadits lain di shahih Muslim:
الإِسْلاَمُ أَنْ تَشْهَدَ أَنْ لاَ إِلَهَ إِلاَّ اللَّهُ وَأَنَّ مُحَمَّدًا رَسُولُ اللَّهِ وَتُقِيمَ الصَّلاَةَ وَتُؤْتِىَ الزَّكَاةَ وَتَصُومَ رَمَضَانَ وَتَحُجَّ الْبَيْتَ إِنِ اسْتَطَعْتَ إِلَيْهِ سَبِيلاً.
Artinya: “Islam adalah engkau menyaksikan bahwa tidak ada tuhan selain Allah dan Muhammad adalah Rasulullah, mendirikan shalat, membayar zakat, puasa bulan Rasmadan dan haji ke Baitullah bagi yang mampu perjalanan”
(Muslim bin Hajjaj, Al-Jam’il as-Shahih Muslim, Dar Jail, Beirut, tp.th, juz 1 hlm. 28)

Syair Abah Umar.:
Dadi ana hukum iku pertimbangan                # Hukum syara’ ora rubah nganggo patokan
Hukum akal hubungane neng Pengeran      # Nuhun pituduh ngarep-ngarep ning bantuan
Hukum adat timbul sangking kabeh rakyat # Aja niru yen sulaya karo syara’
Awas batur aja wani-wani niru                     #  Politikan karo hukum aja keliru
Politikan Ijma’ Qiyas Hadis Qur’an              #  Yen wis cocok ayu bareng-bareng jalan
Iki prabot pengaturan amal badan                #  Nggawa amal dalan eling ning Pengeran
Ngatur anak badan rabi lan sedulur             #  Lumayan kanggo sangu amal kubur
Ayu santri bagusana syariate                       #  Yen wis bagus bisa nemu hakekate
Kita urip duwe umur ikhlasana                     #   Luru derajat dunya akherat gerakna
Laku dunya aja sampe ngelalekna                #  Tinggal ngaji bakti ora mikirna
(malam Rabu, 23 Syawal 1370 H / 1956 M)
اِنَّ الصَّلاَةَ كَانَتْ عَلَى المُؤْمِنِيْنَ كِتَابًا مَوْقُوْتًا
فَافْتُرِضَ خَمْسًا عَلَيْهِ لاَ تُزَالُ # وَعَلَى الاُمَّةِ وُجُوْبًا بِلاَ مُحَالِ
Gusti Allah merdluaken shalat lima waktu # Dateng kanjeng Nabi lan umate wajib istu
(catatan KH. Abdur Rosyid hlm. 7)
2.      Jama’ah Asy-Syahadatain meyakini bahwa shalat wajib lima waktu hukumnya wajib dalam keadaan bagaimana pun sebagaimana firman Allah:
فَإِذَا قَضَيْتُمُ الصَّلَاةَ فَاذْكُرُوا اللَّهَ قِيَامًا وَقُعُودًا وَعَلَى جُنُوبِكُمْ فَإِذَا اطْمَأْنَنْتُمْ فَأَقِيمُوا الصَّلَاةَ إِنَّ الصَّلَاةَ كَانَتْ عَلَى الْمُؤْمِنِينَ كِتَابًا مَوْقُوتًا (النساء: 103)
Artinya:    “Maka apabila kamu melaksanakan shalat(mu), ingatlah Allah di waktu berdiri, di waktu duduk dan di waktu berbaring. kemudian apabila kamu telah merasa aman, Maka dirikanlah shalat itu (sebagaimana biasa). Sesungguhnya shalat itu adalah fardhu yang ditentukan waktunya atas orang-orang yang beriman.”

Hadits yang menunjukkan bahwa dalam keadaan bagaimana pun harus tetap shalat:
أخرج عبد الرزاق وسعيد بن منصور وابن أبي شيبة وأحمد وعبد بن حميد وأبو داود والنسائي وابن جرير وابن المنذر وابن أبي حاتم والدارقطني والطبراني والحاكم وصححه والبيهقي عن أبي عياش الزرقي قال « كنا مع رسول الله صلى الله عليه وسلم بعسفان ، فاستقبلنا المشركون عليهم خالد بن الوليد وهم بيننا وبين القبلة ، فصلى بنا النبي صلى الله عليه وسلم الظهر ، فقالوا : قد كانوا على حال لو أصبنا غرتهم ، ثم قالوا : يأتي عليهم الآن صلاة هي أحب إليهم من أبنائهم وأنفسهم ، فنزل جبريل بهذه الآيات بين الظهر والعصر { وإذا كنت فيهم فأقمت لهم الصلاة } فحضرت ، فأمرهم رسول الله صلى الله عليه وسلم ، فأخذوا السلاح وصففنا خلفه صفين ، ثم ركع فركعنا جميعاً ، ثم سجد بالصف الذي يليه والآخرون قيام يحرسونهم ، فلما سجدوا وقاموا جلس الآخرون فسجدوا في مكانهم ، ثم تقدم هؤلاء إلى مصاف هؤلاء وهؤلاء إلى مصاف هؤلاء ، ثم ركع فركعوا جميعاً ، ثم رفع فرفعوا جميعاً ، ثم سجد الصف الذي يليه والآخرون قيام يحرسونهم ، فلما جلسوا جلس الآخرون فسجدوا ، ثم سلم عليهم ثم انصرف
Dikeluarkan oleh Abdul Razzaq, Said bin Manshur, Ibnu Abi Syaibah, Ahmad, Abd bin Hamid, Abu Dawud, an-Nasa’I, Ibnu Juraij, Ibn al-Mundzir, Ibn Abi Hatim, ad-Darquthni, at-Thabrani, al-Hakim, al-Baihaqi dari Abi Ayyasy al-Zarqi berkata: “Kami bersama Rasulullah saw di Usfan, kemudian kami dihadang oleh kaum musyrik yang termasuk di dalamnya Khalid bin al-Walid. Mereka ada di antara kami dan kiblat. Nabi saw. dan kami shalat dzuhur. Mereka pada keadaan yang kami bisa terkena tipudaya mereka. Mereka berkata: “mereka (Islam) sekarang sedang shalat yaitu perbuatan yang lebih dicintai daripada anak-anaknya dan darinya sendiri. Kemudian Jibril turun dengan membawa ayat tersebut (an-Nisa ayat 102) antara dzuhur dan asar. (apabila kamu berada di tengah-tengah mereka (sahabatmu) lalu kamu hendak mendirikan shalat bersama-sama mereka,) maka saya hadir. Kemudian Rasulullah saw. memerintahkan untuk mengambil pedang dan berbaris dibelakangnya bershaf-shaf. Kemudian beliau ruku’ kami ikut ruku’ semua, kemudian beliau sujud, sebagian kami sujud dan yang lain berdiri untuk menjaga. Ketika Rasul berdiri, kami berdiri semuanya. Kemudian sebagian kami sujud yang lain berdiri menjaga. Ketika kami duduk maka yang lain sujud, sampai beliau salam kemudian pergi.
(Ad-Dur al-Mantsurah, juz 3 hlm.224)

Pendapat Ulama:
حدثني المثنى قال، حدثنا أبو صالح قال، حدثني معاوية عن علي بن أبي طلحة، عن ابن عباس قوله:"واذكروا الله كثيرًا"، يقول: لا يفرض الله على عباده فريضة إلا جعل لها حدًّا معلومًا، ثم عذر أهلها في حال عذرٍ، غيرَ الذكر، فإن الله لم يجعل له حدًا ينتهي إليه، ولم يعذر أحدًا في تركه إلا مغلوبًا على عقله، فقال:"فاذكروا الله قيامًا وقعودًا وعلى جنوبكم"، بالليل والنهار، في البر والبحر، وفي السفر والحضر، والغنى والفقر، والسقم والصحة، والسرِّ والعلانية، وعلى كل حالٍ.
Bercerita kepada kami berkata: bercerita kepada kami Abu Shalih berkata: bercerita kepada saya Mu’awiyah dari Ali bin Abi Thalhah dari Ibnu Abbas ayat واذكروا الله كثيرًا memberikan komentar: “tidaklah Allah mewajibkan kewajiban atas hamba-Nya kecuali Allah menjadikannya batas yang telah diketahui. Kemudian udzur orang yang melakukan kewajiban tersebut jika dalam keadaan udzur, selain dzikir. Karena Allah tidak menjadikannya batas yang dapat menyampaikannya. Orang tidak dikatakan udzur meninggalkannya kecuali orang yang hilang akalnya. Kemudian dia berkata: “dan dirikanlah shalat dalam keadaan berdiri, duduk dan berbaring. Baik di waktu malam, siang, di darat dan laut, di perjalanan maupun dirumah, saat kaya maupun miskin, ketika sakit maupun sehat, sembunyi maupun terang-terangan dan pada setiap keadaan.
Muhammad bin Jarir bin Yazid at-Thabari, Jami’ al-Bayan fi Tafsir al-Qur’an, Mu’assasah ar-Risalah, Beirut, 2000, juz 9 hlm. 164

3.      Jama’ah Asy-Syahadatain meyakini bahwa onani selain istrinya adalah haram
Ayat al-Qur’an:
وَالَّذِينَ هُمْ لِفُرُوجِهِمْ حَافِظُونَ (5) إِلَّا عَلَى أَزْوَاجِهِمْ أَوْ مَا مَلَكَتْ أَيْمَانُهُمْ فَإِنَّهُمْ غَيْرُ مَلُومِينَ (6) فَمَنِ ابْتَغَى وَرَاءَ ذَلِكَ فَأُولَئِكَ هُمُ الْعَادُونَ (7)
Artinya:    “Dan (orang mukmin adalah) orang-orang yang menjaga kemaluannya, kecuali terhadap isteri-isteri mereka atau budak yang mereka miliki. Maka Sesungguhnya mereka dalam hal ini tiada terceIa. Barangsiapa mencari yang di balik itu Maka mereka Itulah orang-orang yang melampaui batas.
Hadits Nabi:
حدثنا عمر بن حفص بن غياث حدثنا أبي حدثنا الأعشى قال حدثني عمارة عن عبد الرحمن بن يزيد قال : دخلت مع علقمة الأسود على عبد الله فقال عبد الله كنا مع النبي صلى الله عليه و سلم شبابا لا نجد فقال لنا رسول الله صلى الله عليه و سلم ( يا معشر الشباب من استطاع الباءة فليتزوج فإنه أغض للبصر وأحصن للفرج ومن لم يستطع فعليه بالصوم فإنه له وجاء)
Bercerita kepada kami Umar bin Hafsh bin Ghayyats, bercerita kepada kami ayahku, bercerita kami al-A’masy berkata berceritaku Imarah dari Abdurrahman bin Yazid berkata: “Aku mesuk bersama Alqamah al-Aswad ke rumah Abdullah. Abdullah berkata: kami bersama Nabi saw ketika masih muda, tapi tidak menemukan kemudian Rasulullah berkata kepada kami:
“Wahai Abdurrahman“Wahai sekalian para pemuda, barangsiapa di antara kamu yang mempunyai kemampuan hendaklah segera menikah, karena nikah itu lebih menundukkan mata dan lebih menjaga kehormatan diri. Dan barangsiapa yang belum mampu hendaknya berpuasa, karena puasa itu dapat membentenginya”
Muhammad bin Isma’il al-Bukhari, al-Jami’ as-Shahih al-Bukhari, Dar Ibn katsir, Beirut, 1987, juz 5 hlm. 195 dan Muslim bin Hajjaj, Al-Jam’il as-Shahih Muslim, Dar Jail, Beirut, tp.th, juz 4 hlm. 128

أخبرنا أبو علي الروذباري و أبو عبد الله الحسين بن عمر بن برهان الغزال و أبو الحسين بن الفضل القطان و أبو محمد بن عبد الجبار السكري نا إسماعيل بن محمد الصفار ثنا الحسن بن علي بن ثابت الجزري عن مسلمة بن جعفر عن حسان بن حميد عن أنس بن مالك : عن النبي صلى الله عليه و سلم قال :
سبعة لا ينظر الله عز و جل إليهم يوم القيامة و لا يزكيهم و لا يجمعهم مع العالمين يدخلهم النار أول الداخلين إلا أن يتوبوا إلا أن يتوبوا إلا أن يتوبوا فمن تاب تاب الله عليه الناكح يده و الفاعل و المفعول به و المدمن بالخمر و الضارب أبويه حتى يستغيثا و المؤذي جيرانه حتى يلعنوه و الناكح حليلة جاره
Bercerita kepada kami Abu Ali ar-Raudzibari, Abu Abdullah al-Husain bin Umar bin Burhan al-Ghazzal, Abu al-Husain bin al-Fadl al-Qaththan dan Abu Muhammad bin Abdul Jabbar az-Zukri, bercerita kepada kami Isma’il bin Muhammad as-Shaffar, bercerita kepada kami al-Hasan bin Ali bin Tsabit al-Jazari dari Maslamah bin ja’far dari Hassan bin Hamid dari Anas bin Malik dari Nabi saw. bersabda:
“Ada tujuh golongan yang Allah tidak akan melihatnya di hari Kiyamat, tidak membersihkannya, dan tidak mengumpulkannya bersama orang suluruh alam, serta memasukkannya ke dalam neraka sebagai orang yang pertama kali. Kecuali mereka bertaubat, kecuali mereka bertaubat, kecuali mereka bertaubat. Maka siapa yang bertaubat maka Allah akan menerima taubatnya. Yaitu orang yang menikahi tangannya (onani), pelaku dan obyek pelaku, pecandu khamr, memukul kedua orangnya sehingga meminta tolong, menyakiti tetangga sehingga mereka mengutuknya dan menikahi istri tetangganya.”
Ahmad bin al-Husain al-Baihaqi, Syu’b al-Iman, Dar al-Kutub al-Ilmiyyah, Beirut, 1410 H, juz 4 hlm. 378

4.      Jama’ah Asy-Syahadatain meyakini memegang dan melihat kemaluan orang lain selain hajat adalah haram
5.      Jama’ah Asy-Syahadatain meyakini bahwa sesuatu yang hukumhya sunnah tidak bisa mengalahkan sesuatu yang wajib hukumnya.
Kaidah Fiqhiyyah
ما لا بد منه لا يترك إلا بما
“Sesuatu yang wajib tidak boleh ditinggalkan kecuali dengan sesuatu tersebut (jenis wajib)”
أن الواجب لا يترك إلا لواجب
“Sesungguhnya kewajiban tidak boleh ditinggalkan kecuali dengan kewajiban”
Imam Tajuddin Abdul Wahhab As-Subki, al-Asybah wa an-Nadhair, Dar al-Kutub al-Ilmiyyah, Beirut,  1991, juz 1 hlm. 212
أن الواجب لا يترك لسنة
“Sesungguhnya kewajiban tidak dapat ditinggalkan dengan kesunnahan”
Imam Tajuddin Abdul Wahhab As-Subki, al-Asybah wa an-Nadhair, Dar al-Kutub al-Ilmiyyah, Beirut, 1991, juz 1 hlm. 213


Berdasarkan argumentasi yang telah disebutkan di atas, Majelis Masyayikh Jama’ah Asy-Syahadatain mengeluarkan fatwa bahwa ajaran yang mengatasnamakan kelompok Jama’ah Asy-Syahadatain  tersebut sebagaimana poin 1, 2 dan 3 BUKAN tuntunan Jama’ah Asy-Syahadatain.
Demikian fatwa ini dikeluarkan sebagai respon atas penyimpangan yang mengatasnamakan Jama’ah Asy-Syahadatain dan dapat ditindaklanjuti sebagaimana mestinya.

REKOMENDASI
1.      Mohon DPP dapat menindak tegas oknum yang mengatasnamakan Jama’ah Asy-Syahadatain tersebut
2.      Mohon Majelis Masyayikh Jama’ah Asy-Syahadatain Pusat dapat menindaklanjuti fatwa tersebut sebagai fatwa Majelis Masyayikh Jama’ah Asy-Syahadatain Pusat
3.      Meminta pertanggungjawaban dari Tokoh dan Pimpinan Jama’ah Asy-Syahadatain terkait atas penyimpangan yang menyakut nama baik Jama’ah Asy-Syahadatain.

Terjadi Penyimpangan Tuntunan di Tegal


Akhir-akhir ini Jama’ah Asy-Syahadatain wilayah Jawa Tengah digemparkan dengan beberapa penyimpangan tuntunan yang dilakukan oleh oknum yang mengatasnamakan kelompok Jama’ah Asy-Syahadatain. Hal ini tentunya membuat Majelis Masyayikh Jama’ah Asy-Syahadatain Jawa Tengah tidak tinggal diam. Penyimpangan tersebut adalah sebagai berikut:
1.   Memperbolehkan meninggalkan shalat wajib lima waktu karena dalam keadaan bekerja atau mencari nafkah dengan alasan keduanya adalah ibadah yang cukup dilaksanakan salah satu saja.
2.   Menurunkan hawa nafsu dengan cara onani (mengeluarkan mani dengan tangan) yang dilakukan oleh gurunya kepada muridnya. Kemudian gurunya memerintahkan untuk menahan jangan sampai keluar spermanya. Diyakini hal tersebut dapat menurunkan hawa nafsu.
3.     Diperbolehkan meninggalkan shalat karena tidak membawa pakaian jubah dan sorban putih.
Kejadian tersebut bermula dari laporan salah seorang Jama’ah Asy-Syahadatain Tegal akan tidak penyimpangan tuntunan tersebut kepada penulis pada 13 April 2012. Kemudian penulis melaporkan tindakan tersebut kepada Majelis Masyayikh Jama’ah Asy-Syahadatain Jawa Tengah. Kemudian Majelis Masyayikh Jawa Tengah meneruskan laporan ke Dewan Pimpinan Pusat Jama’ah Asy-Syahadatain Indonesia pada tanggal 14 April 2012. Pada tanggal 15 April 2012 Dewan Pimpinan Pusat menunjuk penulis sebagai tim untuk klarifikasi data lapangan mengenai penyimpangan tersebut. Saat itu juga penulis dan tim Majelis Masyayikh Jawa Tengah menuju Tegal untuk klarifikasi data penyimpangan dengan mewawancarai saksi yang ada.
Pada tanggal 17 April 2012 bertempat di Ponpes Miftahussa’adah Kudus Majelis Masyayikh Jawa Tengah mengadakan musyawarah pengeluaran fatwa penyimpangan tuntunan oleh oknum yang mengatasnamakan kelompok Jama’ah Asy-Syahadatain.

sekilas tentang Majelis Masyayikh Jama'ah Asy-Syahadatain


Qur’an Hadits Ijma’ Qiyas sumberane # Kanggo ngatur badan kula neng dunyane
Artinya: “Al Quran, Hadis Nabi, Ijma’ dan Qiyas merupakan sumber tuntunan Jama’ah Asy-Syahadatain untuk mengatur kehidupan di dunia”
Setelah setengah abad lamanya kita telah ditinggal oleh yang mulia Sayyidi Syaikhuna al-Mukarram Habib Umar bin Isma’il bin Ahmad bin Yahya, seakan-akan Jama’ah Asy-Syahadatain kehilangan karakter seorang guru mursyid sebagai penuntun amalan tarekat. Namun kita sebagai muridnya haruslah tetap optimis bahwa beliau tidak akan pernah meninggalkan kita, dan tidak akan pernah mengabaikan kita.
Kebersamaan dan perasaan satu yang mencerminkan ukhuwah Islamiyyah haruslah kita jaga hingga akhir masa. Karena dengan ukhuwwah itulah kita dapat mendapatkan kembali keutuhan tuntunan yang berserakan seakan-akan terpecah menjadi berkeping-keping. Layaknya sebuah sejarah pengumpulan hadits-hadits Nabi dimasa pasca meninggalnya Nabi, kita pun di tuntut untuk menyatukan tuntunan Habib Umar yang disampaikan kepada masing-masing sahabat beliau dalam waktu dan tempat yang berbeda.
Namun tidak jarang tuntunan tersebut disalahartikan atau disalahfahami sehingga banyak yang menyimpang dari tuntunan yang sebenarnya. Untuk itu hadir lah Majelis Masyayikh Jama’ah Asy-Syahadatain sebagai solusi atas keadaan tersebut. Majelis yang dibentuk oleh ormas Jama’ah Asy-Syahadatain Indonesia ini juga berfungsi sebagai mesin pencetak generasi yang solid dalam mengamalkan tuntunan dan sebagai penggali informasi (baca:pentashih) tentang tuntunan, sejarah, syair dan aurad Habib Umar.
Semoga kehadiran Majelis Masyayikh Jama’ah Asy-Syahadatain dapat mewarnai dan menjadikan solusi problem sejama’ah dan luar jama’ah yang berhubungan dengan tuntunan Habib Umar. Saat ini yang menjadi ketua umum periode 2011 s/d 2016 adalah Bapak Amiruddin, M.Ag Wanantara.

Minggu, 01 April 2012

Bukan "Pendusta Syahadat" hanya "Menyembunyikan Syahadat" (bagian 1)



Ahad, 7 Shaffar 1377 H, MUDRIK
وَلَا تَكْتُمُوا الشَّهَادَةَ وَمَنْ يَكْتُمْهَا فَإِنَّهُ آَثِمٌ قَلْبُهُ وَاللَّهُ بِمَا تَعْمَلُونَ عَلِيمٌ
Artinya: “ … Janganlah kamu menyembunyikan persaksian. dan Barangsiapa yang menyembunyikannya, Maka Sesungguhnya ia adalah orang yang berdosa hatinya; dan Allah Maha mengetahui apa yang kamu kerjakan.” (al-Baqarah: 283)
Sifat mukmin ngati-ngati kelakuhane             # ayu diwaca sira kabih wiridane
Mumpung dunya ati salim gagi gawe             # ora gawe amal akhirat ora duwe
Watir dunya bokan bli olih kasabane             # watir akhirat bokan blolih pengapurane
Kasab dunya lan akhirat kang seimbang         # tinggal wajib lan sunnah dueni wirang
Artinya:
“Sifat orang mukmin adalah berhati-hati dalam berbuat. (Untuk itu mari) kita baca (dan amalkan) semua aurad. Mumpung dunia ini (kita masih berkesampatan) untuk mendapatkan qalb salim (hati yang sehat dari penyakit) maka cepatlah ciptakan. Apabila kita tidak membuat (hati salim) maka kita tidak akan mempunyai pahaala di akhirat. Kekhawatiran di dunia adalah apabila kita takut tidak mendapat pekerjaan, sedangkan kekhawatiran di akhirat adalah apabila kita takut tidak memperoleh pengampunannya. Kasab (pekerjaan) dunia dan akhirat harus seimbang, yaitu apabila meninggalkan wajib dan sunnah punya rasa malu.”
Demikian kami kutip kitab tulisan tangan KH. Abdurrosyid Wanantara.
Dalam penggalan surat al-Baqarah ayat 283 sebagaimana yang disebutkan di atas, pada dasarnya merupakan keterangan ayat mengenai hukum mu’malah yang dalam hal ini adalah hutang piutang. Namun, apabila kita melihat dari segi makna filosofis, maka kita akan banyak menjumpai makna dibalik ayat tersebut yang luar biasa dalam. Dengan demikian supaya tidak keluar dari makna yang diharapkan oleh Syaikhuna Abah Umar, maka kita harus merelasikan dengan syair dibawahnya.
Menyembunyikan persaksian dalam ayat tersebut merupakan menyembunyikan persaksian dalam hal hutang piutang, namun secara filosofi persaksian di sini ialah syahadah an la ilaha illa Allah wa anna Muhhammad rasulullah (penyaksian bahwa tidak ada tuhan selain Allah dan Nabi Muhammad utusan Allah). Dengan demikian oyang menyembunyikan persaksian dalam hal aqidah adalah orang yang tidak mau menampakkan ke-imanan-nya kepada orang lain. Padahal makna syahadat sesungguhnya adalah a’lamu, a’taqidu, wa ubayyinu li ghairi (aku mengetahui, meyakini, dan menunjukkan kepada orang lain), apabila orang yang bersyahadat namun tidak dijelaskan kepada orang lain, maka syahadat orang tersebut belum sempurna karena salah satu dari 3 (tiga) unsur tersebut yaitu ilmu, keyakinan, dan penunjukan kepada orang lain belum ada.
Mungkin pembaca akan bertanya-tanya, lalu bagaimana kah untuk menunjukkan kepada orang lain bahwa kami adalah orang yang telah bersyahadat? Inilah pentingnya syair yang terdapat di atas tadi.
Sifat mukmin ngati-ngati kelakuhane             # ayu diwaca sira kabih wiridane
Mumpung dunya ati salim gagi gawe             # ora gawe amal akhirat ora duwe
Watir dunya bokan bli olih kasabane             # watir akhirat bokan blolih pengapurane
Kasab dunya lan akhirat kang seimbang         # tinggal wajib lan sunnah dueni wirang

Rabu, 28 Maret 2012

MENEMBUS BATAS KEIKHLASAN BERIBADAH


Belajar dari muqaddimah Kitab al-Anwar al-Qudsiyyah karya Syaikh Abdul Wahab Asy-Sya’rani
Kala itu hari Senin Mubarak tanggal 17 Rajab 931 H, bergetarlah jiwaku dengan kuat untuk mecari tahu maqamat (kedudukan/derajat) para wali Allah ra. Aku pun menganggap enteng apa yang terjadi denganku. Kehidupanku menjadi tidak tentu (bingung) karena jauh dari keridlaan yang telah Allah janjikan. Sehingga aku khawatir kalau matiku su’ul khatimah, dibenci dan Allah marah. Maka aku pun keluar dari tempatku. Ketika aku di tenda di depan pertamanan di Mesir, antara sadar dan tidak sadar aku mendengar suara yang tidak tampak orangnya berkata atas firman yang maha al-Haq (Allah) SWT.: “Wahai hambaku apabila Aku memperlihatkanmu seluruh apa yang ada (di jagat raya), semua bilangan pasir, nama-nama setiap biji darinya, tumbuh-tumbuhan serta nama-namanya dan umurnya, binatang-binatang serta umurnya dan sebangsanya sampai dengan ujungnya, burung-burung, seluruh jenis serangga, seluruh hewan dan aku buka untukmu seluruh kerajaan langit dan bumi, surga dan neraka serta apa yang ada di dalamnya lahir batin dan aku turunkan hujan dengan doamu, dan Aku menghidupkan orang mati dengan tanganmu, serta aku mengalirkan apa yang aku berikan kemulyaan untuk hamba-hambaku yang mukmin, tidaklah kamu (karena hala tersebut termasuk) dari ibadahKu sedikitpun.” Kemudian aku pun tidak menemukan suara itu lagi, maka tidak meneruskan pembicaraan ini. Yang tersisa dariku hanyalah keinginan diri untuk mendapatkan derajat dari maqam-maqam para kekasih Allah tidak (untuk) di dunia juga di akhirat. 
Dengan demikian pembaca yang budiman, hasrat kita untuk mencari kedudukan yang mulia di sisi Allah bukanlah untuk kebahagian di dunia dan di akhirat saja. Namun yang lebih utama kita mencari ridla Allah adalah semata-mata untuk dekat dengan al-Haq Allah SWT. Adapun kebahagian yang kita dapat merupakan dari dekat dengan Allah hanya sebatas reward atas kedekatan kita kepadanya.  
Coba kita ingat kembali doa yang diajarkan Abah Umar ketika aurad ba’da maghrib.
Akal kula nuhun dipun paringi waras supadasa nerima sekabihane ilmu
Badan kula nuhun dipun paringi waras supadasa nerima sekabihane amale
Ati kula nuhun dipun paringi waras supadasa nerima sekabihane imanul yaqin