BANNER

banner kecil

Selasa, 19 Juli 2011

أَغْفِرْ لَنَا / اِغْفِرْ لَنَا ؟؟؟


Ada seseorang bertanya dengan saya tentang kalimat yang di dalam aurad aghfir lana dengan ighfir lana, mana yang benar? Umumnya sih memakai ighfir lana, terus kenapa ko Abah Umar memakai aghfir lana. Kemudian jawab saya:
Sesungguhnya yang tau maksud Abah Umar memilih redaksi aghfir lana daripada ighfir lana yang tau hanya Abah Umar sendiri, namun secara behasa adalah sebagai berikut:
Kalimat yang seringkali dipakai dalam memohon pengampunan yang berasal dari bentuk kalimat غفر ada 3 macam bentuk, yaitu:   اِغْفِرْ لَنَا, اَسْتَغْفِرُ اللهَ dan اَغْفِرْ لَنَا . Jika kalimat اِغْفِرْ berasal dari kalimat غَفَرَ يَغْفِرُ اِغْفِرْ  yang berarti mengampuni atau menutupi, sedangkan اَسْتَغْفِرُ berasal dari kalimat اِسْتَغْفَرَ يَسْتَغْفِرُ yang berarti memohon ampun, maka اَغْفِرْ berasal dari kalimat اَغْفَرَ يُغْفِرُ اَغْفِرْ yang berarti menutupi atau memasukkan. Dalam kitab Taj al-Arusy min Jawahir al-Qamus karya Muhammad bin Muhammad bin Abdurrazzaq al-Husaini juz 13 halaman 246 dan kitab Lisan al-Arab karya Muhammad bin Mukarram bin Mandhur al-Afriqi juz 5 halaman 25 disebutkan bahwa kalimat اَدْخَلَ (memasukkan),  سَتَرَ (menutupi), dan  اَوعَى(memasukkan dalam wadah) mempunyai arti yang sama dengan اَغْفَرَ.
أَدْخَلَهُ وسَتَرَهُ وأَوْعاهُ كأَغْفَرَهُ وكذلك غَفَرَ الشَّيْبَ بالخِضَابِ: غَطَّاهُ وأَغْفَرَه قال:
حَتَّى اكْتَسَبْتُ مِن المَشيبِ عِمَامَةً ... غَفْرَاءَ أُغْفِرَ لَوْنُها بخِضَابِ
Dengan demikian apabila kita meneliti dengan seksama arti yang lebih tepat untuk kalimat اَغْفِرْ لَنَا adalah semoga Engkau (Allah) menutupi (dosa-dosa) kami.

NAPAK TILAS RUWAHAN DI MASJID AGUNG DEMAK

NAPAK TILAS RUWAHAN DI MASJID AGUNG DEMAK

Suasana Shalat berjamaah di Masjid Agung Demak 18 Juli 2011
Bulan Sya’ban atau yang lebih familier dikenal dengan bulan Ruwah oleh kalangan Jama’ah Asy-Syahadatain di wilayah Jawa Tengah adalah agenda yang dilaksanakan rutin setiap tahun. Ruwah sendiri menurut cerita berasal dari kata Ruh yang berarti Roh, artinya bulan Ruwah oleh sebagian Jama’ah Asy-Syahadatain dianggap sebagai momen untuk mengirim doa kepada ahli kubur yang sudah meninggal.
Datangnya bulan Sya’ban bagi Jama’ah Asy-Syahadatain di Kudus sekitarnya yang meliputi Kabupaten Kudus, Demak, Jepara dan Pati menjadi agenda utama setiap tahunnya. Menurut cerita dulu Abah Umar mengajak muridnya seperti K. Khozin Munjul, K. Yasin Wanantara, K. Dawud Indramayu, K. Masrukhin dan tokoh-tokoh yang lain untuk bersafari rohani yaitu ziarah Wali Songo dan Wali yang lain. Secara langsung Abah Umar mengajarkan kepada murid-muridnya untuk menanamkan rasa syukur dan terimakasih kepada para leluhur dalam hal ini Wali Songo yang telah mengislamisasi tanah Jawa sehingga seperti saat ini. Motivasi yang lain Abah Umar melalui momen bulan Sya’ban atau Ruwah mengajarkan untuk mengirim doa kepada para leluhur.
Sesampai Abah Umar dan rombongan di makam Raden Fattah Demak yang berada di jantung kota Demak Abah Umar mewasiatkan kepada K. Masrukhin dan rombongan untuk mengadakan acara rutin setiap bulan Sya’ban di tempat tersebut. Sehingga sampai dengan saat ini setiap hari Senin setelah tanggal 15 Sya’ban menjadi agenda rutin Jama’ah Asy-Syahadatain Kudus sekitarnya. Dari tahun ke tahun acara tersebut meluas menjadi ritual “napak tilas” oleh Jama’ah Asy-Syahadatain di Jawa Tengah, Jawa Timur, Jawa Tengah, dan DKI Jakarta. Seiring perjalanan tersebut mengingat tamu yang dari jauh maka Jama’ah Asy-Syahadatain Kudus sekitarnya merasa betanggungjawab atas acara tahunan tersebut, sehingga waktu itu tempat Masjid dan Rumah K. Masrukhin merupakan tempat istirahat bagi tamu yang jauh. Kumpulnya Jama’ah Asy-Syahadatain tersebut tidak disia-siakan oleh beliau, akhirnya selain ziarah ke Raden Fattah Demak maka di Mejobo tempatnya K. Masrukhin malam Senin sebelum ke Demak di adakan Tawasul Akbar.
Suasana Tawasul di dalam Masjid Agung Demak 18 Juli 2011
Tahun ini 1432 H. acara Ruwahan berjalan sangat meriah dan khidmat. Acara yang dihadiri oleh ratusan Jama’ah Asy-Syahadatain dari penjuru provinsi tersebut menjadi sarana silaturahim antar jama’ah. Semoga acara tersebut menjadi langkah kita untuk mewujudkan “Sentralisasi Tuntunan Jama’ah Asy-Syahadatain”
Oleh Yusuf Muhajir Ilallah

Sabtu, 16 Juli 2011

ABSTRAKSI Tarekat Jama'ah Asy-Syahadatain sebagai "Bengkel Jiwa"


Orang sufi melihat kerusuhan dalam dunia ini disebabkan oleh 2 (dua) keadaan, pertama karena manusia itu tidak percaya adanya Allah, kedua karena manusia itu terlalu mencintai dirinya sendiri. Sebab yang pertama mengakibatkan tidak mengenal Allah, yang mengakibatkan pula tidak takut dan tidak patuh kepada perintah-perintah dan larangan-larangan Allah, yang merupakan peraturan-peraturan untuk mengadakan perdamaian antara manusia satu sama lain di muka bumi ini.
Sebab yang kedua mengakibatkan timbul beberapa keadaan, seperti mencintai harta benda dan kekayaan, mencintai makan minum lezat yang berlimpah-ruah, mencintai anak istri yang berlebihan, mencintai rumah yang besar dan megah, mencintai kedudukan yang tinggi dan berpengaruh, mencintai nama yang harumdan masyhur, yang akhirnya membawa kepada kecintaan yang sangat kepada dunia dan ingin hidup kekal di atas permukaan bumi.
Baik keadaan tidak mengindahkan peraturan-peraturan Allah mengenai pergaulan antara manusia dengan manusia manapun akibat-akibat mencintai diri sendiri yang berlebih-lebihan itu, maka timbullah pertentangan-pertentangan kepentingan antara manusia dengan manusia dan antara golongan dengan golongan, yang merusak persaudaraan dan perdamaian dalam pergaulan. Masing-masing manusia itu bekerja untuk dirinya sendiri dan untuk golongannya sendiri, dengan tidak mempedulikan kepentingan orang atau golongan lain, yang sebenarnya harus hidup bersama-sama, serta gotong royong, secara adil dan secara makmur bersama. Maka terjadilah pula rebutan hidup mewah dan rebutan rizki serta kekayaan yang tidak ada batasnya. Apabila perbuatan ini sampai ke puncaknya, tidak dapat disingkirkan adanya perkelahian antara manusia dengan manusia, atau adanya peperangan antara golongan dengan golongan. Maka lenyaplah keamanan dan perdamaian di atas muka bumi ini, disebabkan kekufuran terhadap Allah dan keserakahan terhadap diri sendiri.
Bagaimana usaha melenyapkan pertentangan ini???
INGAT… KESHALIHAN SOSIAL berawal dari KESHALIHAN INDIVIDU…
Keshalihan Individu bisa terbentuk dengan apabila direprarasi terlebih dahulu di “Bengkel Jiwa”. Salah satu konsepnya adalah Takhalli, Tahalli, dan Tajalli. Demikian al-Habib Umar bin Isma’il bin Ahmad bin Yahya membangun sebuah “Bengkel Jiwa” dengan sebutan Tarekat Syahadat Shalawat atau sekarang dikenal dengan Jama’ah Asy-Syahadatain .

BIOGRAFI SINGKAT ABAH UMAR

Berikut adalah biografi singkat Abah Umar yang diketahui oleh umumnya masyarakat yang sudah kami rangkum:
Abah Umar adalah keturunan Rasulullah SAW. ke-36. Marga beliau adalah Yahya. Adapun silsilahnya adalah Umar bin Isma’il bin Ahmad bin Syaikh bin Thaha bin Masyikh bin Ahmad bin Idrus bin Abdullah bin Muhammad bin Alawi bin Ahmad bin Yahya bin Hasan bin Ali bin Alawi bin Muhammad bin Ali bin Alawi bin Muhammad bin Ali Muhammad Shahib al-Mirbath bin Ali Khali Qasim bin Alawi bin Muhammad bin Alawi bin Ubaidillah bin Ahmad al-Muhajir Ilallah bin Isa an-Naqib bin Muhammad an-Naqib bin Ali ar-Aridl bin Ja’far as-Shadiq bin Muhammad al-Baqir bin Ali Zain al-Abidin bin Husain bin Fathimah az-Zahra bint Muhammad Rasulullah saw.
Habib Umar adalah salah seorang keturunan Alawiyah yang lahir pada tanggal 12 Rabiul Awwal 1298 H. bertepatan dengan tanggal 22 Juni 1888 M. di Arjawinangun Cirebon (± 25 KM ke arah Barat Laut kota Cirebon). Sejak usia remaja, beliau mengembara menuntut ilmu dari satu pondok pesantren ke pondok pesantren yang lain.
Pesantren yang beliau singgahi pertama kali adalah pondok pesantren Ciwedus Cilimus Kuningan Jawa Barat yang diasuh oleh KH. Ahmad Shobari. Menurut cerita KH. Ahmad Shobari adalah orang yang pertama kali bai’at tarekat kepada beliau, padahal usia Abah Umar di kala itu masih relatif muda. Dari Ciwedus, beliau bertemu dengan KH. Abdul Halim, seorang kyai muda dari Majalengka Jawa Barat yang juga pernah menjadi murid KH. Ahmad Shobari.
Dua tahun kemudian beliau pindah ke pondok pesantren Bobos Palimanan Cirebon yang dipimpin oleh K Sujak. Pada tahun 1916 beliau pindah lagi ke pondok pesantren Buntet Astanajapura Cirebon Jawa Barat yang diasuh oleh KH. Abbas. Kemudian setelah satu tahun di sana, beliau pergi ke pondok pesantren Majalengka yang diasuh oleh KH. Anwar dan KH. Abdul Halim. Di pondok pesantren Majalengka ini, Abah Umar menimba ilmu selama lima tahun. Tahun keenam Abah Umar diangkat sebagai tenaga pengajar tetap di madrasah yang didirikan oleh KH. Abdul Halim. Di sini beliau seringkali terlibat dalam diskusi dengan para tokoh di pesantren maupun para tokoh yang berada di persyarikatan ulama sehingga nama beliau cepat terkenal.
Pada tahun 1923 habib Umar pulang ke kampung halaman. Dari sinilah beliau memulai berdakwah dan membangun masyarakat, baik dalam bidang sosial, material, keagamaan, maupun spiritual.
by. Yusuf Muhajir Ilallah Ponpes Miftahussa'adah Kudus

Epistemologi Asy-Syahadatain (Pengantar Awal)

Kesaksian yang dalam bahasa arab adalah asy-syahâdah secara etimologi berasal dari kata syahida – yasyhadu – syahadah yang berarti bersaksi. Menurut Muḥammad bin Muḥammad al-Ḥusainî dalam tâj al-‘arûs arti syahadat adalah informasi yang pasti baik secara lisan maupun prinsip.[1] Artinya, informasi tersebut dinyatakan pasti dan otentik secara lisan yang biasanya menggunakan media “dari mulut ke mulut”, maupun secara prinsip yang biasanya terekam oleh catatan yang otentik.
Dalam al-Quran kalimat yang berhubungan syahadat seringkali diulang-ulang. Setidaknya ada beberapa pengertian dengan konteks yang berbeda-beda. Sebagaimana contoh surat al-Baqarah ayat 185 disebutkan bahwa konteks syahadat pada ayat tersebut adalah kesaksian tentang munculnya hilal sebagai pertanda masuknya bulan puasa. Konteks yang berbeda adalah Ali ‘Imran ayat 18 yang berbunyi:
            شَهِدَ اللَّهُ أَنَّهُ لَا إِلَهَ إِلَّا هُوَ وَالْمَلَائِكَةُ وَأُولُو الْعِلْمِ قَائِمًا بِالْقِسْطِ لَا إِلَهَ إِلَّا هُوَ الْعَزِيزُ الْحَكِيمُ
Artinya:      Allah menyatakan bahwasanya tidak ada Tuhan melainkan Dia (yang berhak disembah), yang menegakkan keadilan. Para Malaikat dan orang-orang yang berilmu (juga menyatakan yang demikian itu). tak ada Tuhan melainkan Dia (yang berhak disembah), yang Maha Perkasa lagi Maha Bijaksana. (Ali ‘Ilram: 18)
Zamakhsyari mengartikan syahida dalam ayat tersebut sebagai penyaksian yang bertujuan untuk memberikan informasi pasti dan menunjukkan kepada yang lain.[2] Maka tidak salah kalau Ibnu Katsir memberikan predikat bahwa penyaksian model ini adalah penyaksian yang paling benar dan paling adil, karena yang bersaksi adalah Allah, para Malaikat dan para ulama.[3] Senada dengan Zamakhsyari, al-Allusi juga mengartikan syahida penjelasan. Menurut al-Allusi syahida adalah majas yang diserupakan kepada kalimat bayyana (menjelaskan).[4]
Masih banyak lagi konteks pemahaman yang berbeda dari kalimat syahadat. Penulis bisa menyimpulkan bahwa substansi makna syahadat adalah berhubungan dengan lahiriyah dan batiniyah. Artinya, ada penyaksian yang diartikan cukup melihat karena berhubungan dengan suatu hal yang bersifat lahiriyah seperti melihat hilal. Ada penyaksian yang bersifat batin seperti yang digambarkan pada surat Fushshilat ayat 20, yang menjelaskan tentang ahli neraka yang apabila mereka sampai ke neraka, pendengaran, penglihatan dan kulit mereka menjadi saksi terhadap mereka tentang apa yang telah mereka kerjakan. Ada pula penyaksian yang bersifat lahir batin sebagai gambaran surat Ali Imran ayat 18 yang telah dijelaskan di atas.
Syahadat merupakan suatu bacaan yang familier yang seringkali diucapkan dalam setiap ritual keagamaan umum. Seperti di dalam shalat yang dibaca di dalam bacaan tasyahud, di dalam kalimat adzan, di dalam khotbah dan masih banyak lagi. Dalam konteks yang berbeda-beda tersebut hampir menunjukkan arti yang sama.
Abû Bakr al-Anbârî mengartikan syahadat pada konteks kalimat adzan sebagai mengetahui dan menjelaskan. Sehingga apabila diucapkan asyhadu an la ilaha illa Allah mempunyai arti aku mengetahui dan menjelaskan kepada orang lain bahwa tiada tuhan selain Allah. Sedangkan asyhadu anna Muhammad rasul Allah berarti aku mengetahui dan menjelaskan kepada orang lain bahwa Muhammad adalah utusan Allah.[5] Begitu pula syahadat yang dibaca di dalam shalat, khotbah, doa tertentu dan lain-lain mempunyai pemahaman arti yang hampir sama.
Dengan demikian maka bisa disimpulkan bahwa syahadat secara terminologi adalah sebuah penyaksian yang di dalamnya mengandung arti mengetahui, meyakini dan menjelaskan kepada orang lain bahwa tiada tuhan selain Allah dan Nabi Muhammad adalah utusan Allah.
oleh Yusuf Muhajir Ilallah

[1] Muḥammad bin Muḥammad bin Abd ar-Razzâq al-Ḥusainî, Tâj al-‘Arûs min Jawâhir al-Qamûs, Dâr al-Hidâyah, Beirut, tp. th., juz 8 hlm. 252
[2] Muhmud bin Amr bin Ahmad al-Zamashsyari, Al-Kasysyaf, Maktabah Syamilah, juz 1, hlm. 260
[3] Ismail bin Umar bin Katsir al-Qurasyi, Tafsir al-Qur’an al-Adhim, Dar Thayyibah, 1999, juz 2, hlm. 24
[4] Syihabuddin Mahmud bin Abdullah al-Allusi, Ruh al-Ma’ani fi Tafsir al-Qur’an al-Adhim wa as-Sab’ al-Matsani, juz. 2 hlm. 453.
[5] Muḥammad bin Mukarram bin Manẓûr al-‘Afriqî, Lisân al-’Arab, Dâr aṣ-Ṣâdir, Beirut, t.th, juz. 3, hlm. 238.

Ar-Radzilah dalam pandangan al-Ghazali

Ar-Radzilah secara etimologi adalah dari kata radzula yang mempunyai arti buruk, jelek, rendah dan hina. Muhammad bin Muhammad al-Husaini dalam Taj al-‘Arusy mendefinisakan ar-radzil sebagai “ad-dun min an-nas fi mandharih wa halatih” (kehinaan seseorang dari segi pandangan orang lain maupun dari sifatnya sendiri). (Taj al-‘Arusy min Jawahir al-Qamus: 29/66)
Allah swt. telah menyebutkan di dalam al-Qur’an beberapa kali mengenai orang-orang yang mempunyai sifat ar-radzilah. Penyebutan tersebut berkenaan dengan kaum kafir yang menghina utusan Allah dengan menganggap bahwa yang mengikuti utusan Allah adalah orang-orang yang hina. Allah swt. berfirman:
فَقَالَ الْمَلَأُ الَّذِينَ كَفَرُوا مِنْ قَوْمِهِ مَا نَرَاكَ إِلَّا بَشَرًا مِثْلَنَا وَمَا نَرَاكَ اتَّبَعَكَ إِلَّا الَّذِينَ هُمْ أَرَاذِلُنَا بَادِيَ الرَّأْيِ وَمَا نَرَى لَكُمْ عَلَيْنَا مِنْ فَضْلٍ بَلْ نَظُنُّكُمْ كَاذِبِينَ (هود: 27)
Artinya:    “Maka berkatalah pemimpin-pemimpin yang kafir dari kaumnya: "Kami tidak melihat kamu, melainkan (sebagai) seorang manusia (biasa) seperti Kami, dan Kami tidak melihat orang-orang yang mengikuti kamu, melainkan orang-orang yang hina dina di antara Kami yang lekas percaya saja, dan Kami tidak melihat kamu memiliki sesuatu kelebihan apapun atas Kami, bahkan Kami yakin bahwa kamu adalah orang-orang yang dusta". (Hud: 27)
Dalam kesempatan lain di dalam al-Qur’an disebutkan perkataan orang-orang kafir kepada nabi Nuh yang mempertanyakan kredibelitas kenabiannya:
قَالُوا أَنُؤْمِنُ لَكَ وَاتَّبَعَكَ الْأَرْذَلُونَ (نوح: 111)
Artinya:    “Mereka berkata: "Apakah Kami akan beriman kepadamu, Padahal yang mengikuti kamu ialah orang-orang yang hina?". (Nuh: 111)
Al-Imam al-Ghazali mendefinisikan ar-radzilah sebagai penyakit hati yang dapat menjalar keseluruh pribadi seseorang sehingga menjadikan seseorang tersebut mempunyai akhlak yang tercela dan semakin hina. Beliau menambahkan bahwa manusia lahir dan hidup berada dalam budi pekerti yang kurang sempurna, kemudian tugas manusia adalah untuk menyempurnakannya dengan tarbiyyah (pendidikan), tahdzib al-akhlaq (membersihkan hati) dan at-taghdziyyah bi al-‘ilm (sarapan ilmu). (Ihya’ ‘Ulum ad-Din: 3/21)
Keterangan di atas dapat dijadikan inspirasi bagi kita semua bahwa sifat hina bisa datang dari diri sendiri dan bisa datang dari pengaruh orang lain. Sebagaimana yang dikatakan oleh al-Ghazali bahwa asal mula sifat ar-radzilah ini adalah berawal dari penyakit hati. Kemudian menyebar ke berbagai pribadi seseorang melalui panca indera. Ketika melihat tetangganya sedang memperoleh kenikmatan dari Allah, mata memproses kejadian tersebut kemudian memasukkan ke dalam hati dan timbullah sifat iri, drengki dan hasud. Ketika mendengar temannya mendapatkan kenikmatan, telinga memproses suara tersebut yang kemudian memasukkan ke dalam hati dan timbullah sifat hasud. Dan begitu seterusnya.
Pribadi yang sudah terkena penyakit hati akan menularkan kepada orang lain yang tidak mempunyai benteng yang kuat. Benteng tersebut adalah taqwa. Allah swt. telah berfirman tentang pakaian yang kita pakai untuk melindungi dari hal batin (benteng batin) adalah takwa: “Hai anak Adam, Sesungguhnya Kami telah menurunkan kepadamu pakaian untuk menutup auratmu dan pakaian indah untuk perhiasan. dan pakaian takwa Itulah yang paling baik. yang demikian itu adalah sebahagian dari tanda-tanda kekuasaan Allah, Mudah-mudahan mereka selalu ingat.” (al-A’raf: 26). Dalam kesempatan lain Allah memerintahkan kita untuk medapatkan bekal yang akan menjaga kita dari hal yang buruk yaitu takwa: “Berbekallah, dan Sesungguhnya Sebaik-baik bekal adalah takwa dan bertakwalah kepada-Ku Hai orang-orang yang berakal.” (al-Baqarah: 197)
Penyakit hati (sifat ar-radzilah) mempunyai beberapa macam di antaranya adalah ‘Ujub yaitu menyombongkan diri sendiri tanpa sepengetahuan orang lain, biasanya kesombongan ini hanya terjadi di dalam hati saja sehingga orang lain tidak tau. Berbeda dengan takabbur yang menyombongkan diri dengan menampakkan kepada orang lain, baik perbuatan maupun perkataan. Penyakit hati yang lain adalah ria atau pamer. Allah menyinggung langsung orang yang pamer pada surat al-Ma’un ayat 6: “Orang-orang yang berbuat ria”. Definisi ria adalah melakukan sesuatu amal perbuatan tidak untuk mencari keridhaan Allah akan tetapi untuk mencari pujian atau kemasyhuran di masyarakat.
(Yusuf Muhajir Ilallah, pengen diaku muride Abah Umar)